BI Antisipasi Tingginya Ketergantungan Dollar AS

Kompas.com - 11/12/2015, 10:37 WIB
EditorErlangga Djumena
JAKARTA, KOMPAS.com - Tingginya ketergantungan Indonesia terhadap pendanaan asing menjadi perhatian Bank Indonesia (BI) dalam menentukan kebijakan moneter ke depan. Tak pelak, keputusan kenaikan suku bunga acuan The Fed menjadi sumber perhatian utama bank sentral Indonesia.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, mengatakan, ketergantungan yang besar terhadap investor asing menimbulkan risiko. Terutama risiko terhadap stabilitas nilai tukar yang kemudian akan berimbas terhadap kondisi makro ekonomi Indonesia.

Secara detail ia menjelaskan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia saat ini ditutup oleh utang luar negeri (ULN). Baik dalam bentuk penerbitan surat berharga negara (SBN) maupun pinjaman.

Kendati SBN diterbitkan dalam bentuk rupiah, namun kepemilikan asing masih dominan, yakni mencapai 37 persen. Kebijakan The Fed tentu akan mempengaruhi keputusan investasi para pemodal asing ini.

Selanjutnya, kebutuhan pendanaan korporasi. Sumber pendanaan di dalam negeri terbilang masih terbatas. Sehingga, banyak korporasi yang mencari pinjaman ke kreditur global. Mirza mencatat, saat ini pinjaman off-shore korporasi Indonesia mencapai 169 miliar dollar AS.

Kepercayaan kreditur luar negeri sangat tergantung dari dampak kebijakan moneter global, terutama The Fed, terhadap korporasi Indonesia. Kreditur global ini tentu memilah mana korporasi yang sehat dan yang tidak.

Kemudian, peran asing di pasar modal serta kepemilikannya di saham sejumlah emiten dalam negeri pun masih tinggi. Sehingga, nasib harga saham emiten-emiten ini akan sangat tergantung dari keputusan investasi para pemodal asing.

Dengan demikian, kebijakan The Fed masih menjadi isu yang mendominasi atas keputusan BI dalam menjaga stabilitas moneter ke depan. Selama masih ada ketidakpastian, maka investor akan cenderung memegang dollar AS.

Sehingga, mata uang negeri Paman Sam ini menguat terhadap seluruh mata uang dunia, termasuk rupiah. "Yang bisa kami lakukan adalah membuat kebijakan yang prudent dengan segala risiko yang ada," ujarnya, Kamis (10/12/2015).

Kebijakan yang dimaksud adalah menjaga laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi. BI mengestimasi, tahun depan pertumbuhan ekonomi Indonesia ada di batas bawah target yang berkisar 5,2 persen-5,6 persen.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber KONTAN
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Restrukturisasi dan Bersih-bersih di BUMN Harus Jadi Program Berkelanjutan

Restrukturisasi dan Bersih-bersih di BUMN Harus Jadi Program Berkelanjutan

Whats New
Simak Proyeksi Pergerakan IHSG Pasca Hari Kemerdekaan RI

Simak Proyeksi Pergerakan IHSG Pasca Hari Kemerdekaan RI

Whats New
Ini Cara Mengelola Pengeluaran untuk Mahasiswa Agar Uang Bulanan Tidak Cepat Habis

Ini Cara Mengelola Pengeluaran untuk Mahasiswa Agar Uang Bulanan Tidak Cepat Habis

Spend Smart
[POPULER MONEY] Harga Terbaru Pertalite | Segini Harga Pertalite Jika Tak Disubsidi Pemerintah

[POPULER MONEY] Harga Terbaru Pertalite | Segini Harga Pertalite Jika Tak Disubsidi Pemerintah

Whats New
Perusahaan Konsultan IT Asal AS Bidik Pasar 'Cloud Computing' di RI

Perusahaan Konsultan IT Asal AS Bidik Pasar "Cloud Computing" di RI

Whats New
Dekati UMKM, PT Pos Buka 7.700 'Drop Point' PosAja di 500 Kabupaten dan Kota

Dekati UMKM, PT Pos Buka 7.700 "Drop Point" PosAja di 500 Kabupaten dan Kota

Whats New
Mengapa Adopsi Komputasi Awan Penting untuk Transformasi Digital Perusahaan di Indonesia?

Mengapa Adopsi Komputasi Awan Penting untuk Transformasi Digital Perusahaan di Indonesia?

Whats New
Pemerintah Dinilai Perlu Tolak Intervensi Asing soal Kebijakan Industri Rokok

Pemerintah Dinilai Perlu Tolak Intervensi Asing soal Kebijakan Industri Rokok

Rilis
Genjot Produksi Jagung, Kementan Gandeng Bayer Indonesia

Genjot Produksi Jagung, Kementan Gandeng Bayer Indonesia

Whats New
Pertamina Kembangkan Teknologi Diesel Biohidrokarbon dan Bioavtur

Pertamina Kembangkan Teknologi Diesel Biohidrokarbon dan Bioavtur

Whats New
HUT Ke-77 RI, Menkominfo Sebut Digitalisasi Kunci Pemulihan Ekonomi

HUT Ke-77 RI, Menkominfo Sebut Digitalisasi Kunci Pemulihan Ekonomi

Whats New
Menhub: Gunakan Tema Besar HUT Ke-77 RI agar Sektor Transportasi Pulih Lebih Cepat

Menhub: Gunakan Tema Besar HUT Ke-77 RI agar Sektor Transportasi Pulih Lebih Cepat

Whats New
Cara Daftar m-Banking Mandiri lewat HP dengan Mudah

Cara Daftar m-Banking Mandiri lewat HP dengan Mudah

Whats New
Saat Para Penumpang Pesawat Sikap Sempurna dan Hormat Bendera...

Saat Para Penumpang Pesawat Sikap Sempurna dan Hormat Bendera...

Whats New
Simak Promo dan Diskon HUT Ke-77 RI di Taman Safari, Dufan hingga Trans Snow World

Simak Promo dan Diskon HUT Ke-77 RI di Taman Safari, Dufan hingga Trans Snow World

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.