Bikin Kereta Cepat, China Masih Banyak Gunakan Produk Impor

Kompas.com - 11/12/2015, 20:40 WIB
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi,  dan Elektronika Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan (paling kiri) berbincang dengan Rektor ITB Kadarsyah Suryadi di Pusat Desain dan Rekayasa Industri Penunjang Perkeretaapian, Bandung, Jumat (11/12/2015). Estu Suryowati/KOMPAS.comDirektur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan (paling kiri) berbincang dengan Rektor ITB Kadarsyah Suryadi di Pusat Desain dan Rekayasa Industri Penunjang Perkeretaapian, Bandung, Jumat (11/12/2015).
|
EditorJosephus Primus

BANDUNG, KOMPAS.com – Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang dikerjakan konsorsium Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia dan BUMN China terus menyita banyak perhatian. Jelas saja, selain karena nilai investasinya yang fantastis, kereta jenis ini memang belum bisa direkayasa oleh industri dalam negeri.

Namun siapa sangka, China yang berkembang pesat menuju negara teknologi maju pun hingga saat ini masih banyak menggunakan komponen impor dalam pembuatan kereta cepat. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan, kepada wartawan, di Bandung, Jumat (11/12/2015).

Putu menceritakan perihal kunjungan Menteri Perindustrian Saleh Husin ke Qingdao, China, pada Sabtu (5/12/2015). Dalam kunjungannya, rombongan sempat menyambangi pabrik kereta dan pusat riset industri kereta api China Railway Rolling Stock (CRRC) Qingdao Sifang Co Ltd, yang berlokasi di tenggara Beijing. “Kalau saya lihat, sebenarnya mereka tidak membuat sendiri. Sebagian besar impor, rem, motor step. Tetapi mereka punya desain,” tutur Putu usai peresmian Pusat Desain dan Rekayasa Industri Penunjang Perkeretaapian, di Institut Teknologi Bandung, hari ini.

Putu pun berharap, Pusat Desain dan Rekayasa Industri Penunjang Perkeretaapian yang diresmikan itu akan berkembang menjadi seperti CRRC. Pengembangan dari hasil Pusat Desain dan Rekayasa Industri Penunjang Perkeretaapian, bisa dilakukan oleh BUMN lain seperti PT INKA (Persero). “Industri yang benar itu ya seperti CRRC. Mereka punya design center, pengujian. Dia punya satu model yang ditawarkan untuk diproduksi masal,” lanjut Putu.

Putu mengatakan, dalam kunjungan rombongan ke Qingdao, pihak CRRC tidak menyebutkan nominal investasi untuk mengembangkan pusat desain lengkap dengan fasilitas produksi yang terintegrasi. “Tetapi rasanya, kalau dilihat dari alat-alatnya mahal sekali. Bisa sampai Rp 10 triliun sampai Rp 15 triliun,” taksir Putu.

Meski tak semua komponen kereta cepat direkayasa sendiri oleh industri dalam negeri China,  teknologi produk impor tersebut sudah mereka kuasai. Dengan begitu, lebih mudah untuk perawatan dan perbaikannya. “Dalam kunjungan ini yang menjadi hal tak dilupakan ternyata mereka gunakan banyak aluminium dan stainless steel," kata Putu lagi.

Lebih lanjut dia bilang, harusnya Indonesia yang kaya akan tambang bauksit dan nikel, bisa memanfaatkan kekayaan alam tersebut untuk produk yang lebih hilir. Sebagaimana diketahui bauksit merupakan bahan mentah penghasil aluminium, sedangkan nikel dapat diolah menjadi stainless steel. “Kita harus bisa menghasilkan komponen-komponennya. Artinya, China jangan ambil mentah dari kita. Tapi sudah berbentuk komponen stainless steel atau aluminium,” tegas Putu.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X