Kompas.com - 19/12/2015, 19:20 WIB
EditorErlangga Djumena
WASHINGTON, KOMPAS.com - Perang minyak antara Amerika Serikat dan blok Arab bakal kian sengit. Presiden Obama Jumat (18/12/2015) malam,  menandatangani anggaran belanja yang di dalamnya termasuk mencabut larangan ekspor minyak mentah. Kebijakan tersebut merupakan yang pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir.

Beleid yang lolos di kongres itu memayungi anggaran belanja pemerintah AS senilai 1,15 triliun dollar AS sampai September 2016. Dana ini juga akan digunakan untuk membiayai utang AS yang jatuh tempo pekan depan.

Salah satu poin terpenting dari beleid itu adalah kini AS bisa menjual hasil minyak ke luar negeri, meski pasar global jenuh akan pasokan.

Larangan ekspor ini dibuat tahun 1970-an di tengah krisis pasokan minyak di AS. Namun kini di tengah berlimpahnya pasokan, produsen minyak seperti ConocoPhillips dan Continental Resources Inc berpendapat aturan tersebut sudah usang.

"Saya bukan menyukai hal ini. Saya rasa ini yang benar bagi kita semua," kata Obama, dikutip Bloomberg.

Dia mengatakan, bujet besar tersebut juga sebagai investasi di keamanan dan kelas menengah.

Pasokan berlimpah di pasar global mungkin akan menahan banjirnya minyak ekspor AS. Tetapi, hal ini bisa memberikan kelonggaran bagi produsen minyak.

"Sekarang kita bisa mengimbangi pasar. AS akhirnya berkesempatan untuk bersaing dan merealisasikan potensi penuh kita di bidang energi," kata George Baker, pimpinan dari Producers for American Crude Oil Exports.

ConocoPhillips juga sepakat ini adalah momen bersejarah dalam kebangkitan energi AS.

"Kami sangat bersemangat, tapi perlu juga untuk membenahi infrastruktur untuk ekspor. Saya percaya kita akan melihat ekspor minyak mulai tahun depan," kata Ryan Lance, CEO ConocoPhillips.  

Tak semua pihak senang dengan keputusan Obama. Pihak yang menentang beralasan, ekspor minyak akan menekan industri penyulingan dan buruk untuk lingkungan.

Chairman dari pengilangan minyak PBF Energy Tom O'Malley mengatakan, pencabutan aturan ini setidaknya akan mematikan satu pengilangan minyak di bagian timur laut AS.

"Ini hal gila, sekali aturan ini diangkat, akan sulit sekali untuk dikembalikan," katanya.   (Sanny Cicilia)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber KONTAN


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.