Presdir Freeport Indonesia Temui Gubernur Papua

Kompas.com - 26/12/2015, 05:23 WIB
Direktur Utama PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin hadir memberi keterangan pada sidang lanjutan perkara pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden, di Mahkamah Kehormatan Dewan, Gedung MPR DPR, Jakarta, Kamis (3/12/2015). Saat memberi keterangan itu ia mengaku telah menyerahkan telepon gengam yang digunakan untuk merekam kepada penyidik Jaksa Agung Pidana Khusus di Jakarta pada Rabu (2/12) malam. KOMPAS/LASTI KURNIADirektur Utama PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin hadir memberi keterangan pada sidang lanjutan perkara pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden, di Mahkamah Kehormatan Dewan, Gedung MPR DPR, Jakarta, Kamis (3/12/2015). Saat memberi keterangan itu ia mengaku telah menyerahkan telepon gengam yang digunakan untuk merekam kepada penyidik Jaksa Agung Pidana Khusus di Jakarta pada Rabu (2/12) malam.
EditorErlangga Djumena
JAYAPURA, KOMPAS.com — Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin menemui Gubernur Papua Lukas Enembe di rumah dinasnya, Jumat (25/12/2015) malam.

Maroef mengaku, kedatangannya tersebut ditujukan untuk menyampaikan langsung ucapan selamat Natal, sekaligus meningkatkan komunikasi dengan pemerintah daerah.

Dalam perbincangan ringan yang juga dihadiri oleh beberapa petinggi Freeport lainnya, Maroef mengutarakan bahwa dirinya merasa berutang setelah beberapa waktu lalu Gubernur melakukan kunjungan ke perusahaan tersebut.

Pertemuan itu juga digunakan untuk membuka ruang komunikasi antara PT Freeport dan pemerintah daerah yang selama ini dinilai kurang terjalin dengan baik.

"Kita harus tetap bergandengan tangan dengan Pemerintah Provinsi Papua. Hal-hal yang mungkin pada masa lalu belum terselesaikan, dengan komunikasi begini, kita bisa tahu kami sebagai investor kurangnya apa," ujar dia.

Ia mengemukakan, meski segala hal tentang Freeport lebih banyak diurus ke pemerintah pusat, pihaknya ingin menghargai keberadaan pemerintah daerah tempat mereka berinvestasi, dan juga masyarakatnya.

"Freeport itu sebagai aset nasional yang dikapitalisasi oleh modal asing, tetapi aset itu ada di negara Indonesia, dalam hal ini di Papua, jadi tentu kita tidak boleh mengabaikan atau melupakan keberadaannya di mana," kata Maroef.

Pertemuan selama sekitar 30 menit tersebut berlangsung hangat dan lebih banyak diselingi oleh candaan dari kedua belah pihak.



Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X