Derita Para Kreator di Negeri Transisi

Kompas.com - 04/01/2016, 05:40 WIB
ist Prof Rhenald Kasali


Maka Edmond pun dibebaskan, namanya direhabilitasi, dan patung berbahan perunggu bocah berusia 12 tahun tanpa alas kaki itu menjadi bukti bahwa warga Pulau Reunion menghargai kreatornya.

Catatan perubahan

Apa yang dialami Edmond sebenarnya juga dihadapi aktor-aktor perubahan lainnya. Mudah sekali untuk meramalkan nasib para kreator dan pemimpin perubahan, yaitu masa kepemimpinan yang dipenuhi hasil prestasi dan karya-karya baru, namun selalu gaduh dengan serangan aneka kesalahan yang disamarkan menjadi "kejahatan".

Saya menulis kalimat seperti ini bukan hanya hari ini, melainkan sejak 2005 dan barangkali sebagian Anda masih ingat, itulah yang saya tulis dalam buku Change (2005), Recode Your Change DNA (2006), dan Let's Change (2014).

Maka kalau BUMN kita gaduh, salah satu penyebabnya di sana sedang berlangsung non-compromizing transformation. Proses transformasi BUMN sudah berlangsung sejak Tanri Abeng membangun kementerian itu dengan konsep value creation.

Bukan hal yang luar biasa, usia Kementerian BUMN baru 17 tahun, tapi menterinya sudah berganti 8 kali.

Wajar bila para pegawai yang menyambut menteri baru selalu berujar, "Apakah menteri ini akan lama berada di sini?"

Lantas bagaimana industri kreatif kita yang kini sudah punya badan sendiri? Belum gaduh, mungkin masih sibuk menata diri. Tetapi, begitu bergerak, ia pasti akan mengalami hal serupa.

Kalau spektakuler hampir pasti gaduh seperti ujian yang dialami Go-Jek. Kalau bangsa ini mau maju, kita hendaknya menghargai kerja keras para kreator dan change leader. Sebab, perubahan itu selalu pahit dan selalu menghadirkan pihak yang saling berhadapan.

Antara yang sudah jauh di depan dengan mereka yang masih hidup di masa lalu. Antara yang terjepit dengan yang memberi harapan baru. Antara yang ingin memacu dengan yang masih ingin menikmati.

Di antara keduanya selalu ada yang membuat air didulang semakin keruh. Dan, catatan serupa itu sudah pernah diberikan sosiolog terkenal Robert King Merton, yang menganalisis tentang social change.

Bagi Merton, itu adalah anomie, yang terjadi saat suatu bangsa berevolusi, menjalani transisi dari organic structure ke mechanical structure. Dari sebuah bentuk perorangan dan guyub ke sebuah sistem.

Siapkah kita mengawal para pembaru?

Prof Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, antara lain menjadi anggota Pansel KPK sebanyak 4 kali dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi acuan dari bisnis sosial di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Menjadi Driver atau Passenger.


Page:
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorBambang Priyo Jatmiko

Close Ads X