"Anggap saja Bandung Awal dari Kereta Cepat Jakarta-Surabaya"

Kompas.com - 12/01/2016, 12:13 WIB
Pengunjung melihat stan kereta peluru CRH dari China dalam pameran teknologi kereta api Innotrans di Berlin, Jerman, 23 September 2014. Lebih dari 2.700 peserta pameran dari 55 negara menampilkan produk kereta mereka dalam pameran yang berlangsung hingga 26 September ini. RAINER JENSEN / picture-alliance / DPA / AP IMAGESPengunjung melihat stan kereta peluru CRH dari China dalam pameran teknologi kereta api Innotrans di Berlin, Jerman, 23 September 2014. Lebih dari 2.700 peserta pameran dari 55 negara menampilkan produk kereta mereka dalam pameran yang berlangsung hingga 26 September ini.
|
EditorErlangga Djumena
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat transportasi Institute Teknologi Bandung, Harun Al-Rasyid mengatakan, pembangunan proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung merupakan langkah yang baik bagi pemerintah Indonesia. Pasalnya, keberadaan kereta api khususnya di daerah masih kurang.

"Density atau kepadatan rel kereta kalau kita lihat di peta masih sangat kecil jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga," ujar Harun saat menjadi pembicara di seminar bertajuk "Pembangunan kereta Cepat Bandung-Jakarta, Kebutuhan atau Pencitraan?" Jakarta, Senin (11/1/2016).

Dia mengatakan, dibandingkan jumlah penduduk dan luas daerah, panjang yang rel yang dimiliki Indonesia masih jauh dari cukup. Menurut dia, sekitar dua per tiga rel yang dimiliki Indonesia merupakan warisan dari pemerintahan Belanda.

Saat ini indonesia memiliki rel kereta sepanjang 8.159 km di seluruh Indonesia, dengan 4.969 km masih beroperasi dan 3.190 km tidak beroperasi.

Dampaknya, bisa dilihat dari sebaran moda transportasi kereta api untuk pengangkutan penumpang di Indonesia yang hanya sebesar 7,3 persen.

Di Indonesia, jalan raya masih menjadi moda terbesar yang digunakan dengan lebih dari 80 persen. Pada 2014 total angkut kereta di Jawa sekitar 271.9 juta per tahun.

"Untuk angkutan barang bahkan tidak sampai 1 persen seluruh indonesia," ujar Harun.

Padahal, kata Harun kereta menjadi moda utama di negara-negara maju. "Di Jepang, Eropa atau negara maju lainnya, kereta api jadi kebanggaan dan harga diri. Mereka jadi penopang yang penting," tutur dia.

Selain itu, menurut Harun, kereta api adalah moda yang paling efektif. Mengutip riset dari International Union of Railways  (UIC), kata dia, energi yang digunakan untuk mengangkut orang oleh kereta cepat itu 8,5 kali lipat lebih efektif daripada pesawat atau 4m35 kali lipat dari mobil.

"Sangat efektif. Energinya juga bisa 3 kali lipat lebih efektif dari bus," papar Harun.

Namun, Harun berharap proyek pembangunan kereta cepat ini jangan hanya berhenti hingga Bandung agar bisa efektif. "Anggap saja Bandung adalah awal dari kereta cepat Jakarta-Surabaya," kata Harun.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pandemi Bikin Transaksi Belanja Online Produk Kosmetik Naik 80 Persen

Pandemi Bikin Transaksi Belanja Online Produk Kosmetik Naik 80 Persen

Spend Smart
Gara-gara Rambut Susah Diatur, Akhirnya Mulai Bisnis Pomade Buatan Sendiri

Gara-gara Rambut Susah Diatur, Akhirnya Mulai Bisnis Pomade Buatan Sendiri

Smartpreneur
AirAsia Dapat Peringkat Tertinggi untuk Health Rating Versi Airlinerating

AirAsia Dapat Peringkat Tertinggi untuk Health Rating Versi Airlinerating

Rilis
Mendag Dorong UMKM Pasarkan Produk Secara Offline dan Online di Masa Pandemi

Mendag Dorong UMKM Pasarkan Produk Secara Offline dan Online di Masa Pandemi

Whats New
Sejumlah Program di Sektor Ketenagakerjaan Ini Bantu 32,6 Juta Orang Selama Pandemi, Apa Saja?

Sejumlah Program di Sektor Ketenagakerjaan Ini Bantu 32,6 Juta Orang Selama Pandemi, Apa Saja?

Whats New
Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Perlu Diskresi untuk Koperasi Multipihak

Whats New
Wamendag: RCEP Bakal Berkontribusi Besar pada Ekonomi ASEAN

Wamendag: RCEP Bakal Berkontribusi Besar pada Ekonomi ASEAN

Whats New
IPC Lanjutkan Pembangunan Terminal Kalibaru, Ditargetkan Beroperasi 2023

IPC Lanjutkan Pembangunan Terminal Kalibaru, Ditargetkan Beroperasi 2023

Rilis
Ignasius Jonan Diangkat Jadi Komisaris Independen Sido Muncul

Ignasius Jonan Diangkat Jadi Komisaris Independen Sido Muncul

Whats New
Menaker: 2,1 juta Korban PHK Harusnya Dapat Karpet Merah, Hanya 95.559 yang Lolos Kartu Prakerja!

Menaker: 2,1 juta Korban PHK Harusnya Dapat Karpet Merah, Hanya 95.559 yang Lolos Kartu Prakerja!

Whats New
5 Tahun Beroperasi, Mandiri Capital Suntik Dana ke 14 Startup dengan Total Rp 1 Triliun

5 Tahun Beroperasi, Mandiri Capital Suntik Dana ke 14 Startup dengan Total Rp 1 Triliun

Whats New
Jelang Natal dan Tahun Baru, DAMRI Siapkan Ribuan Armada Bus Sehat

Jelang Natal dan Tahun Baru, DAMRI Siapkan Ribuan Armada Bus Sehat

Rilis
Profil Edhy Prabowo: Mantan Prajurit, Jagoan Silat, hingga Pengusaha

Profil Edhy Prabowo: Mantan Prajurit, Jagoan Silat, hingga Pengusaha

Whats New
5 Tips Mengatur Keuangan Keluarga

5 Tips Mengatur Keuangan Keluarga

Earn Smart
Organda Keluhkan Kualitas Aspal Jalan Tol Trans Sumatera

Organda Keluhkan Kualitas Aspal Jalan Tol Trans Sumatera

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X