Pemerintah Pertimbangkan Asing Bisa Investasi di "Department Store"

Kompas.com - 18/01/2016, 18:22 WIB
|
EditorJosephus Primus

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah kini tengah menuntaskan pembahasan daftar bidang usaha yang bisa dimasuki oleh asing. Tujuannya, untuk menarik investasi secara masif.

Regulasi yang mengatur soal itu adalah Peraturan Presiden Nomor 39/2014 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Maka dari itulah, pada Senin (18/1/2016) sore hari ini, dilangsungkan rapat koordinasi yang dihadiri oleh sejumlah pejabat terkait, seperti Menteri Perindustrian Saleh Husin, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Sri Agustina, serta Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani.

Rapat revisi DNI dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Franky mengatakan, dalam rapat sore hari ini dibahas dua bidang usaha yaitu bidang perdagangan dan bidang perindustrian. Di bidang perdagangan, rapat memutuskan untuk membuka kesempatan investasi asing di antaranya, e-dagang dan cold storage.

Meski begitu, ada bidang usaha yang belum selesai dibahas, yakni perdagangan eceran (ritel). Dalam Peraturan Presiden Nomor 39 tahun 2014, seluruh bidang usaha perdagangan eceran masih tertutup untuk penanaman modal asing (PMA). Bidang usaha perdagangan eceran hanya bisa dilakukan dengan persyaratan modal dalam negeri 100 persen.

Adapun yang termasuk bidang usaha perdagangan eceran antara lain supermarket dengan luas lantai penjualan kurang dari 1.200 meter persegi, minimarket dengan laus lantai kurang dari 400 meter persegi, termasuk convenience store dan community store, serta department store dengan luas lantai penjualan kurang dari 2.000 meter persegi. “Ketiganya ini masih tertutup. Mungkin ini yang belum selesai. Kita akan coba buka atau tetap. Tapi yang masuk pembahasan tadi adalah department store,” kata Franky, kepada wartawan, hari ini.

Franky mengatakan, pemerintah melihat minat investasi dari pemodal asing cukup besar di bisnis ritel. Tak hanya dari investor asing, Franky yakin para pemodal domestik juga banyak yang melirik bisnis ini. “Kalau dibuka (untuk asing) 33 persen saja, setidaknya dia (lokal) bisa bermitra dengan (pemodal) luar, untuk meningkatkan kapasitas investasi itu,” kata Franky.

Adapun kemitraan yang dipersyaratkan bagi asing untuk merambah bisnis ini bisa dilakukan dengan menyediakan ruang untuk menjual produk-produk hasil usaha kecil menengah (UKM). “Jadi, dia bisa PMA, tapi bekerja sama dengan UKM, untuk memasarkan produk UKM, misalnya,” pungkas Franky.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menteri PUPR: Tiga Jembatan Gantung Selesai Dibangun, Masyarakat Tak Perlu Memutar Jauh Lagi...

Menteri PUPR: Tiga Jembatan Gantung Selesai Dibangun, Masyarakat Tak Perlu Memutar Jauh Lagi...

Whats New
Wanaartha Life Rombak Jajaran Direksi, Ini Tujuannya

Wanaartha Life Rombak Jajaran Direksi, Ini Tujuannya

Whats New
Ternyata Indonesia Punya 'Saham' di IMF, Berapa Persen?

Ternyata Indonesia Punya "Saham" di IMF, Berapa Persen?

Whats New
Pendaratan Pesawat Dialihkan dari Juanda ke Ngurah Rai, Ini Penjelasan AP I

Pendaratan Pesawat Dialihkan dari Juanda ke Ngurah Rai, Ini Penjelasan AP I

Whats New
MLFF Bakal Gantikan E-Toll,  Simak Cara Bayar Tol dari Waktu ke Waktu

MLFF Bakal Gantikan E-Toll, Simak Cara Bayar Tol dari Waktu ke Waktu

Whats New
Tingkatkan Produktivitas Pertanian di Tapanuli Tengah, Kementan Optimalkan Lahan Rawa

Tingkatkan Produktivitas Pertanian di Tapanuli Tengah, Kementan Optimalkan Lahan Rawa

Whats New
Beras dan Cabai Naik, Simak Harga Pangan Hari ini

Beras dan Cabai Naik, Simak Harga Pangan Hari ini

Spend Smart
Antisipasi Lonjakan Harga Pangan dan Energi, Jokowi Fokus Cegah Kenaikan Harga Minyak Goreng

Antisipasi Lonjakan Harga Pangan dan Energi, Jokowi Fokus Cegah Kenaikan Harga Minyak Goreng

Whats New
Cara Cek BPJS Ketenagakerjaan Aktif atau Tidak via Online dengan KTP

Cara Cek BPJS Ketenagakerjaan Aktif atau Tidak via Online dengan KTP

Whats New
Raup Rp 1,47 Triliun, Laba Antam Melonjak 132 Persen pada Kuartal I 2022

Raup Rp 1,47 Triliun, Laba Antam Melonjak 132 Persen pada Kuartal I 2022

Whats New
Habis Resign atau di-PHK? Ini Cara Pindah BPJS Kesehatan ke Mandiri

Habis Resign atau di-PHK? Ini Cara Pindah BPJS Kesehatan ke Mandiri

Work Smart
Apa Perbedaan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan?

Apa Perbedaan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan?

Whats New
Ini Jurus Sri Mulyani Keluarkan Indonesia dari 'Middle Income Trap'

Ini Jurus Sri Mulyani Keluarkan Indonesia dari "Middle Income Trap"

Whats New
Bantah Pembangunan IKN Minim Pendanaan, Luhut: UEA Siapkan Investasi 20 Miliar Dollar AS

Bantah Pembangunan IKN Minim Pendanaan, Luhut: UEA Siapkan Investasi 20 Miliar Dollar AS

Whats New
Monitoring Karantina Sapi di Cilegon, SYL: PMK Ada, tetapi Bisa Disembuhkan

Monitoring Karantina Sapi di Cilegon, SYL: PMK Ada, tetapi Bisa Disembuhkan

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.