Kompas.com - 20/01/2016, 17:22 WIB
Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dipamerkan di salah satu stan peserta International Conference and Exhibition on Palm Oil 2013 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (7/5/2013). Menurut catatan Dewan Minyak Sawit Indonesia, produksi CPO Indonesia tahun 2013 sebesar 28 juta ton  dengan konsumsi dalam negeri sekitar 9,2 juta ton. Pameran berlangsung hingga 9 Mei mendatang.
KOMPAS/PRIYOMBODOTandan buah segar (TBS) kelapa sawit dipamerkan di salah satu stan peserta International Conference and Exhibition on Palm Oil 2013 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (7/5/2013). Menurut catatan Dewan Minyak Sawit Indonesia, produksi CPO Indonesia tahun 2013 sebesar 28 juta ton dengan konsumsi dalam negeri sekitar 9,2 juta ton. Pameran berlangsung hingga 9 Mei mendatang.
|
EditorJosephus Primus

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriono memprediksi, harga minyak sawit mentah (CPO) akan tetap rendah pada 2016.

"Pada 2016, hawanya belum kelihatan bagus. Walau sempat ada sentimen positif pada akhir tahun kemarin, sampai awal tahun ini harganya flat, bahkan cenderung turun," ujar Joko di Kantor Gapki, Jakarta, Rabu (20/1/2016).

Dia memprediksi, tren harga CPO pada 2016 ini akan berada di kisaran 500 dollar AS atau 600 dollar AS per metrik ton. Harga ini terbilang stagnan dibandingkan dengan rata-rata harga CPO pada 2015 yang berada di angka 614 dollar AS.

Prediksi harga ini pun jauh di bawah harga CPO beberapa tahun ke belakang. Pada 2014, harga CPO berada di angka 818,2 dollar AS per metrik ton atau 25 persen lebih tinggi dibanding tahun 2015.

"Jatuhnya harga CPO ini tidak terlepas dari pengaruh kondisi ekonomi global yang lesu ditambah turunnya harga minyak mentah dunia hingga kisaran 30 dollar AS per barrel," ujar dia.

Joko mencontohkan, kelesuan ekonomi serta turunnya harga minyak dunia mengakibatkan penurunan permintaan negara-negara Timur Tengah akan produk kelapa sawit.

Menurut dia, penurunan permintaan yang disebabkan jatuhnya harga minyak dunia otomatis akan mengganggu finansial negara penghasil minyak yang mengimpor sawit.

"Buktinya, pada 2015, permintaan minyak kelapa sawit dari Timur Tengah melorot 8 persen. Dari 2,29 juta ton pada 2014 menjadi 2,11 juta ton pada 2015," ujar dia.

Lebih lanjut, dia mengatakan, tren harga komoditas kelapa sawit yang menurun ini akan terus berlangsung, bahkan berpotensi sampai pada ekuilibrium (keseimbangan) baru. Maka dari itu, dia mengimbau para pengusaha sawit untuk mau melakukan penyesuaian terhadap perubahan harga ini.

"Kita tidak bisa berharap untuk naik. Industri harus konsolidasi. Daripada berharap harga naik, lebih baik melakukan efisiensi dalam produktivitas," ujar Joko.

"Biaya produksi naik, upah pegawai pada naik, sedangkan harga tarun. Perlu konsolidasi pada 2016," ujar Joko Supriono.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.