Dari Utak-atik, Lahir Televisi Mas Kusrin

Kompas.com - 25/01/2016, 22:46 WIB
EditorErlangga Djumena

Setelah 3-4 tahun di Jakarta, ia pulang kampung. Sebagian hasil keringatnya dibelikan tape deck rusak dan dua salon (speaker) seharga Rp 80.000. Tape deck itu diperbaikinya lalu dijual Rp 200.000. ”Uangnya saya belikan radio komunikasi FM untuk brik-brikan,” katanya.

KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA Muhammad Kusrin (36) mengangkat kardus berisi televisi tabung rakitan di tempat usahanya di Desa Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (14/1/2015).
Dari komunitas radio, Kusrin berkenalan dengan orang yang mengerti elektronik. Kusrin lalu menimba ilmu elektronik dari temannya selama dua tahun. Sebelum membuka usaha sendiri, ia bekerja di tempat perakitan televisi di Solo Baru, Sukoharjo, hampir tujuh tahun. Tahun 2011 ia membuka usaha sendiri.

Usahanya berkembang. Kusrin melabeli televisi rakitannya dengan merek Maxreen, Veloz, dan Zener. Merek Maxreen terinspirasi dari kata sapaan namanya, yaitu Mas Srin, kependekan dari Mas Kusrin. Agar terasa lebih modern diracik menjadi Maxreen. Veloz merupakan usulan dari salah satu toko elektronik yang menjual produk buatan Kusrin, sedangkan Zener dicomotnya dari sebutan komponen elektronika.

Usaha Kusrin tak berlangsung mulus. Tahun 2012, usahanya limbung karena karyawan bagian pemasaran menggelapkan hasil penjualan ratusan unit televisi.

Kusrin tidak menyerah begitu saja. Dibangun lagi usahanya. Ia tak lagi memercayai tenaga pemasaran. Ia berhubungan sendiri dengan toko-toko elektronik untuk memasarkan televisi.

Area pemasaran tidak hanya di Karanganyar, Solo, dan sekitarnya, tetapi sampai ke Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya. Jumlah karyawannya sampai 30 orang. Di bawah bendera UD Haris Elektronika, produksi televisi rakitan Kusrin menyentuh angka 100 unit per hari.

Ketika usahanya mulai tumbuh lagi, aparat Kepolisian Polda Jateng menggerebeknya.

Kusrin berniat mengurus sertifikat SNI ketika itu, tetapi langkahnya kalah cepat dari aparat. Produksi televisi berhenti total. Sebagian besar karyawan dirumahkan. Hanya 13 karyawan dipertahankan untuk memberikan layanan servis kepada konsumen.

”Saya sebenarnya sudah cari informasi, tapi tidak ada yang tahu bagaimana caranya mendapatkan label SNI,” kata Kusrin.

Polisi memberitahunya cara mengurus sertifikat SNI. Kusrin bergegas mendaftarkan tiga merek televisinya untuk mendapat sertifikat SNI ke Surabaya, serta melakukan uji produk di Balai Besar Bahan dan Barang Teknik di Bandung, Jawa Barat.

Setelah menanti tujuh bulan, akhirnya sertifikat SNI digenggamnya. Menteri Perindustrian Saleh Husin menyerahkan sendiri Sertifikat Produk Penggunaan Tanda–Standar Nasional Indonesia (SPPT–SNI) kepada Kusrin di Jakarta, Selasa (19/1/2016).

Setelah mengantongi sertifikat SNI, Kusrin bersiap-siap tancap gas. Ia bahkan telah berancang-ancang memproduksi televisi LED tahun depan ketika pasokan tabung monitor bekas sudah habis. Produksi TV LED direncanakannya menggunakan komponen baru semuanya.

”Sudah siap-siap, tapi semua izin akan diurus dulu, setelah itu baru produksi,” ujar Kusrin.

Ketua Umum Jaringan Kota Kreatif Indonesia Paulus Mintarga berpendapat, usaha Kusrin merupakan wujud nyata ekonomi kreatif yang semestinya didampingi. Apa yang terjadi pada Kusrin hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. ”Tugas pemerintah melalui dinas-dinas terkait mendampingi para pelaku ekonomi kreatif untuk berkembang. Kalau kreatif dan bagus semestinya difasilitasi,” katanya. (Erwin Edhi Prasetya)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Januari 2016, di halaman 1 dengan judul "Dari Utak-atik, Lahir Televisi Mas Kusrin".

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Beredar Hoax Pendaftaran Sertifikat Tanah Lewat Program PTSL BPN

Beredar Hoax Pendaftaran Sertifikat Tanah Lewat Program PTSL BPN

Whats New
Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Spend Smart
BNI dan Mandiri Mau Blokir Kartu ATM Magnetic Stripe, BRI Bagaimana?

BNI dan Mandiri Mau Blokir Kartu ATM Magnetic Stripe, BRI Bagaimana?

Whats New
Daya Beli Masyarakat Miskin Tertekan, Pemerintah Diminta Tingkatkan Efisiensi Penyaluran Bansos

Daya Beli Masyarakat Miskin Tertekan, Pemerintah Diminta Tingkatkan Efisiensi Penyaluran Bansos

Whats New
Lowongan Kerja di BUMN Nindya Karya untuk S1 Semua Jurusan, Simak Posisi dan Syaratnya

Lowongan Kerja di BUMN Nindya Karya untuk S1 Semua Jurusan, Simak Posisi dan Syaratnya

Work Smart
Gagal Lolos Prakerja Gelombang 12? Bisa Daftar Lagi di Gelombang 13

Gagal Lolos Prakerja Gelombang 12? Bisa Daftar Lagi di Gelombang 13

Whats New
Ketahui Perbedaan Notaris dan PPAT

Ketahui Perbedaan Notaris dan PPAT

Whats New
OJK Perpanjang Relaksasi BPR dan BPRS, Sampai Kapan?

OJK Perpanjang Relaksasi BPR dan BPRS, Sampai Kapan?

Whats New
Mengembangkan Diri Lewat “Kepo”

Mengembangkan Diri Lewat “Kepo”

Work Smart
Lengkap Rincian Biaya Admin Mandiri, Bunga, dan Saldo Minimal Tabungan

Lengkap Rincian Biaya Admin Mandiri, Bunga, dan Saldo Minimal Tabungan

Spend Smart
Salah Transfer Rp 51 Juta Berujung Penjara, BCA: Sudah 2 Kali Surat Pemberitahuan

Salah Transfer Rp 51 Juta Berujung Penjara, BCA: Sudah 2 Kali Surat Pemberitahuan

Whats New
[POPULER MONEY] Perkara Salah Transfer Rp 51 Juta | Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 13

[POPULER MONEY] Perkara Salah Transfer Rp 51 Juta | Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 13

Whats New
Simak Saldo Minimal Tabungan di Bank BNI, BRI, BTN, dan Mandiri

Simak Saldo Minimal Tabungan di Bank BNI, BRI, BTN, dan Mandiri

Spend Smart
Pengiriman Batu Bara Sempat Terhambat, Industri Hulu Migas Tambah Pasokan Gas Bumi ke PLN

Pengiriman Batu Bara Sempat Terhambat, Industri Hulu Migas Tambah Pasokan Gas Bumi ke PLN

Whats New
CSIS: Kartu Prakerja dan RUU Cipta Kerja Saling Melengkapi

CSIS: Kartu Prakerja dan RUU Cipta Kerja Saling Melengkapi

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X