Bupati Mimika Kecam Freeport karena Tak Mau Bangun Smelter di Papua

Kompas.com - 09/02/2016, 20:49 WIB
Tambang terbuka PT Freeport Indonesia, di Grasberg, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika merupakan tambang terbuka terbesar di dunia. Dalam operasinya  PT Freeport Indonesia mengoperasikan puluhan haul truk untuk mengangkut material tambang dengan kapasitas angkut 240 ton hingga 320 ton. Alfian KartonoTambang terbuka PT Freeport Indonesia, di Grasberg, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika merupakan tambang terbuka terbesar di dunia. Dalam operasinya PT Freeport Indonesia mengoperasikan puluhan haul truk untuk mengangkut material tambang dengan kapasitas angkut 240 ton hingga 320 ton.
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorM Fajar Marta
JAKARTA, KOMPAS.com - Bupati Mimika dan sejumlah Anggota Komisi VII DPR mencecar manajemen PT Freeport Indonesia terkait komitmen pembangunan smelter di Papua.

Namun, manajemen perusahaan tambang terbesar di Indonesia itu menilai tempat ideal membangun pabrik smelter adalah di Gresik Jawa Timur, bukan di Papua. 

"Dari studi yang dilakukan, dari sudut kebutuhan energi dan sudut yang bisa menampung bahan kimia, saat ini lokasi yang paling ideal adalah di Jawa Timur, dan kami akan lanjutkan," kata Direktur PT Freeport Indonesia Clementino Lamury saat rapat dengan Komisi VII DPR Selasa (7/2/2016) di Jakarta.

Freeport beralasan, pembangunan pabrik smelter memiliki resiko yang cukup berbahaya.

Hal itu terutama terkait limbah bahan kimia hasil pengolahan bahan tambang mentah (raw material).

Bupati Mimika Eltinus Omaleng yang juga hadir dalam rapat tersebut tak habis pikir dengan pernyataan Clementino.

Padahal, Pemkab Mimika sudah menyediakan lahan 3.000 hektar untuk pembangunan smelter di Papua.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Jadi tidak ada alasan lagi bagi Freeport untuk membangun smelter di Gresik. Hai Clemen!, apakah gunung Grasberg itu berada di Surabaya?," ujar Eltinus kesal.

Tak cuma Bupati Mimika yang tersulut kesal kepada Freeport karena tak mau membangun Smelter di Papua.

Di Balkon ruang Komisi VII DPR RI, masyarakat Papua yang hadir juga bereaksi.

Mereka berteriak-teriak bahwa pernyataan Clementino merupakan penyataan yang bohong.

Untungnya, kondisi rapat bisa kembali kondusif dalam waktu singkat.

Meski mengaku berkomitmen membangun smelter di Gresik, progres proyek smelter Freeport ternyata baru 14 persen.

Padahal, syarat mendapatkan perpanjangan ekspor enam bulan ke depan adalah perkembangan pembangunan smelter harus meningkat.

Lantaran lamban, pemerintah mewajibkan Freeport menyetor 530 juta dollar AS sebagai jaminan.

Jaminan tersebut hanya seperempat dari nilai investasi pembangunan smelter di Gresik yang mencapai 2,3 miliar dollar AS.

Namun hingga kini dana jaminan tersebut belum juga diserahkan Freeport.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.