Wajib SNI, Produsen Mainan Edukatif Lokal Makin Terpuruk.

Kompas.com - 10/02/2016, 19:44 WIB
|
EditorM Fajar Marta
BAWEN, KOMPAS.com - Masih ingat dengan Muhammad Kusrin, si perakit televisi asal Karanganyar, Jawa Tengah yang pernah tersandung masalah hukum gara-gara produknya tidak bersertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI)?

Ternyata, banyak para pelaku usaha kreatif di Indonesia yang bakal bernasib sama seperti Kusrin karena tidak sanggup membayar biaya pengajuan SNI untuk produk-produknya.

Salah satunya adalah Suparjan & Rupikah Children Toy's, produsen mainan edukatif di Kabupaten Semarang yang sudah berdiri sejak enam belas tahun.

Pada awal berdirinya hingga empat belas tahun berikutnya, produsen mainan berbahan dasar kayu ini menjadikan negara-negara Asia dan Eropa sebagai sasaran produknya.

Namun sejak satu tahun terakhir lalu, ia terpaksa beralih ke pasar lokal karena kalah bersaing dengan produk China, Vietnam dan Philipina.

"Mereka teknologinya lebih canggih. Mesin-mesin yang dibutuhkan benar-benar dibantu oleh Negara. Kalau kita semua diusahakan sendiri, termasuk mesin-mesinnya. Dilema juga kalau mau beli mesin yang harganya tinggi, tapi kalau produknya tidak menentu nanti modal malah tidak kembali," kata Suparjan, pemilik Suparjan & Rupikah Children Toy's saat ditemui dirumah sekaligus workshopnya di Kelurahan Harjosari, Bawen, Kabupaten Semarang, Rabu (10/2/2016) siang.

Kelesuan usaha yang dimiliki Suparjan inipun akhirnya secara otomatis berimbas kepada tenaga kerja yang ia pekerjakan.

Jumlah tenaga kerja yang semula mencapai 40 orang, kini terpaksa ia pangkas menjadi 6 orang.

"Dulu waktu ramai-ramainya order itu, pekerja saya bisa mencapai 30 hingga 40 orang. Sekarang tinggal 6 orang," imbuhnya.

Di tengah keterpurukan usahanya akibat kalah bersaing dengan produk luar, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian pada tahun 2013 mengeluarkan peraturan mengenai pemberlakukan SNI Mainan Secara Wajib.

Aturan ini efektif berlaku sejak 1 Mei 2014 lalu. Dengan aturan itu, para pelaku usaha dan distributor wajib menerapkan SNI mainan dan memastikan bahwa produk mainan anak yang diproduksi dan dijual memenuhi ketentuan SNI.

"Tapi saya baru tahunya tahun 2015 saat diundang sosialisasi mengenai SNI di Klaten. Saat itu diikuti sekitar 60 pengrajin seperti saya," ungkapnya.

Memang aturan ini bertujuan untuk melindungi konsumen sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional dalam menghadapi era persaingan bebas ASEAN.

Namun kenyataannya, para produsen mainan lokal justru terpuruk dan terancam gulung tikar akibat terbentur aturan ini.

Suparjan mengaku peraturan wajib SNI untuk produk mainan sangat memberatkan bagi pelaku usaha skala kecil seperti dirinya.

Sebab biaya sertifikasi yang harus dikeluarkan sangat mahal sehingga akan membuat biaya produksi membengkak.

"Ya otomatis tidak berani mengajukan (SNI). Soalnya pernah menanyakan biayanya berapa, ternyata untuk satu item produk saja itu biayanya sekitar Rp 16 juta dan itu hanya berlaku enam bulan. Padahal produk kita sudah lebih dari 200 item," ungkapnya getir.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Semarang sebagai kepanjangan pemerintah mengaku tidak menutup mata terhadap kesulitan yang dihadapi para produsen mainan anak ini.

Menurut Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Kabupaten Semarang Winarno, biaya terbesar bagi sertifikasi produk ini adalah untuk biaya uji laboratorium yang melibatkan pihak ketiga.

Pemkab Semarang bahkan pernah menganggarkan dana bantuan sertifikasi bagi produsen mainan serta pakaian bayi yang ada di wilayahnya, untuk mendorong daya saing di pasaran.

Namun jumlah yang dianggarkan jauh dibawah kebutuhan biaya sertifikasi.

Pihaknya berharap, semangat para pelaku usaha kreatif untuk mendapatkan sertifikasi ini segera mendapat gayung sambut dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat.

"Kita sebatas (membantu) biaya operasional untuk fasilitasi produk mereka, tapi untuk biaya uji dan sertifikasi mungkin bisa dibantu oleh pemerintah provinsi atau pusat karena jumlahnya tidak sedikit. Jadi ada kesepamahaman, bahwa ini memang betul untuk daya saing produk-produk kita, mari sama-sama mengatasi agar SNI bisa keluar," kata Winarno.

Produk Aman Untuk Anak-anak

Suparjan memproduksi mainan edukatif dengan bahan dasar kayu mahoni.

Kendati ketersediaan kayu mahoni mulai jarang, namun sejauh ini belum berpengaruh pada proses produksi.

Kayu mentah yang akan digunakan, lebih dahulu dioven untuk menghilangkan getahnya.

Kayu kemudian dipotong menjadi balok-balok kecil. Balok-balok ini kemudian dihaluskan hingga tidak ada serat kasar yang keluar.

Setelah itu balok dipotong sesuai ukuran dan dibentuk sesuai dengan pola.

Dalam memproduksi mainannya, Suparjan memperhatikan keamanan untuk anak-anak.

Ia menghindari bentuk sudut agar tidak mudah melukai anak-anak dan menggunakan pewarna yang aman untuk anak-anak.

Dengan kelebihan itu, produknya banyak dipakai oleh sekolah-sekolah dan kelompok bermain di Indonesia.

"Memang untuk pasar lokal sampai sekarang lancar-lancar saja, terutama yang kami kirim ke Medan, Surabaya, kadang-kadang juga Papua, Gorontalo, Banjarmasin juga pernah. Batam, Bali, kayanya hampir seluruhnya pernah pakai produk saya," ujarnya.

Ditengah serbuan permainan digital, usaha Suparjan ini seharusnya mendapat apresiasi dan penghargaan yang selayaknya, bukan malah dipersulit.

Permainan anak-anak ini meski sekilas nampak sederhana, namun mampu melatih saraf motorik anak dan membantu anak berkreasi sesuai imajinasi mereka, sehingga tumbuh kembang anak bergerak ke arah yang positif.

Suparjan masih berharap, di era Pemerintahan Joko Widodo dengan semangat Nawa Cita-nya, produk mainan edukatifnya akan terus berkembang dan mampu bersaing dengan produk-produk luar negeri.

"Saya mohon SNI ini biayanya terjangkau. Saya masih bermimpi kembali tembus pasar Eropa," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

RI Bidik Ekspor Produk Biomassa Cangkang Sawit ke  Jepang

RI Bidik Ekspor Produk Biomassa Cangkang Sawit ke Jepang

Whats New
Cara Top Up DANA lewat BSI Mobile dan ATM BSI dengan Mudah

Cara Top Up DANA lewat BSI Mobile dan ATM BSI dengan Mudah

Spend Smart
Kemenaker Dorong Perusahaan Segera Daftarkan Pekerjanya yang Belum Terdaftar Jamsostek

Kemenaker Dorong Perusahaan Segera Daftarkan Pekerjanya yang Belum Terdaftar Jamsostek

Whats New
Mie Sedaap Ditarik di Hong Kong, Ini Kata BPOM

Mie Sedaap Ditarik di Hong Kong, Ini Kata BPOM

Whats New
Kementerian PUPR Targetkan Penyelesaian 9 Bendungan Hingga Akhir 2022

Kementerian PUPR Targetkan Penyelesaian 9 Bendungan Hingga Akhir 2022

Whats New
BTPN Salurkan Kredit Rp 149,26 Triliun hingga Akhir Juni, Masih Didominasi Segmen Korporasi

BTPN Salurkan Kredit Rp 149,26 Triliun hingga Akhir Juni, Masih Didominasi Segmen Korporasi

Whats New
5 Tips Memilih Investasi yang Aman, Apa Saja?

5 Tips Memilih Investasi yang Aman, Apa Saja?

Whats New
Bank Raya Tunjuk Ida Bagus Jadi Dirut Baru, Gantikan Kaspar Situmorang

Bank Raya Tunjuk Ida Bagus Jadi Dirut Baru, Gantikan Kaspar Situmorang

Whats New
Bantu Perusahaan Bangun Relasi dengan Stakeholder, Tada Gifting Diluncurkan

Bantu Perusahaan Bangun Relasi dengan Stakeholder, Tada Gifting Diluncurkan

Whats New
Pendapatan Klinko (KLIN) Naik 215 Persen pada Semester I-2022

Pendapatan Klinko (KLIN) Naik 215 Persen pada Semester I-2022

Whats New
Astra Internasional Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1, Cek Posisi dan Syaratnya

Astra Internasional Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1, Cek Posisi dan Syaratnya

Work Smart
Krisis Inggris, Sri Mulyani Sebut Ekonomi Indonesia Cukup Kuat

Krisis Inggris, Sri Mulyani Sebut Ekonomi Indonesia Cukup Kuat

Whats New
Sucofindo Buka Lowongan Kerja untuk Pegawai Kontrak, Ini Posisi yang Dibutuhkan

Sucofindo Buka Lowongan Kerja untuk Pegawai Kontrak, Ini Posisi yang Dibutuhkan

Work Smart
Syarat dan Cara Membuat Akun Pendataan Tenaga non-ASN BKN 2022

Syarat dan Cara Membuat Akun Pendataan Tenaga non-ASN BKN 2022

Whats New
BRI Buka Lowongan Kerja Lewat Jalur Program BFLP hingga 11 Oktober

BRI Buka Lowongan Kerja Lewat Jalur Program BFLP hingga 11 Oktober

Work Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.