Industri Negara Berkembang Tenggelam, Investor Eksodus ke Negara Maju

Kompas.com - 02/03/2016, 10:59 WIB
Penulis Aprillia Ika
|
EditorAprillia Ika

Selain Barclays, Standard Charteres juga terganggu kinerjanya di India seiring dengan naiknya kerugian akibat pinjaman.

Bank ini menderita kerugian pertama sejak 1989 dan berencana memangkas 15.000 pekerjaan.

Siklus

John-Paul Smith, pendiri Eclectic Strategy, perusahaan jasa konsultan investasi, mengatakan bahwa banyak perusahaan besar dibangun di negara berkembang, namun kesalahan utama para investor adalah tidak memperhitungkan siklus.

Smith, yang sebelumnya bekerja sebagai manajer investasi di Pictet dan analis saham di Deutsche, menyebutkan bahwa siklus ekuitas negara berkembang berakhir pada Desember 2010.

Dia menyarankan kliennya untuk menjual sahamnya. Beberapa manajer investasi lain bahkan mengira dia bercanda.   

Tapi, sentimen diantara investor di negara berkembang sudah meluas beberapa lama.

Dulu, banyak investor petualang yang lama berkecimpung di negara berkembang, terutama ke negara pengeksor komoditas.

Mereka mencari return yang lebih baik dibanding negara maju dimana suku bunga sangat rendah.

Salah satunya adalah Devan Kaloo, kepala ekuitas negara berkembang di Aberdeen Asset Management.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.