Bunga Kredit Single Digit dan Hambatan Psikologis Bank Sentral

Kompas.com - 14/03/2016, 17:39 WIB
Uang pecahan Rp 100, 200, 500, dan permen. Banyak masyarakat yang menganggap uang recehan ini tak bernilai dan penting KOMPAS.com / Mei LeandhaUang pecahan Rp 100, 200, 500, dan permen. Banyak masyarakat yang menganggap uang recehan ini tak bernilai dan penting
EditorWisnubrata

Jika bunga kredit bisa di level satu digit, seperti yang diharapkan Wapres Jusuf Kalla, maka roda perekonomian di Indonesia bisa berputar lebih cepat.

Sebab, sektor riil bisa mendapatkan pinjaman modal yang lebih murah. Begitu pula dengan UMKM yang selama ini tercekik tingginya bunga kredit.

Jadi, persoalan utama tingginya suku bunga kredit di Indonesia bukanlah karena bank tidak efisien atau ulah korporasi yang meminta bunga deposito tinggi.

Persoalan utamanya adalah kurang percaya dirinya BI untuk menurunkan BI rate secara signifikan.

Kekurangpercayaan diri tersebut merupakan hambatan psikologis yang seharusnya tidak boleh mengganggu perekonomian.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X