Kompas.com - 27/03/2016, 08:17 WIB
Gabungan sopir taksi dan bajaj memarkirkan taksi di kawasan Monumen Nasional saat melakukan aksi demonstrasi di Jakarta, Selasa (22/3/2016). Mereka menuntut pemerintah menutup angkutan umum berbasis online karena dianggap mematikan mata pencaharian mereka. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESGabungan sopir taksi dan bajaj memarkirkan taksi di kawasan Monumen Nasional saat melakukan aksi demonstrasi di Jakarta, Selasa (22/3/2016). Mereka menuntut pemerintah menutup angkutan umum berbasis online karena dianggap mematikan mata pencaharian mereka. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES
EditorAmir Sodikin

Akademisi dan Praktisi Bisnis Rhenald Kasali mengatakan, persaingan antara taksi konvensional dan taksi online atau berbasis aplikasi merupakan pertempuran owning economy versus sharing economy.

Owning economy merupakan bisnis yang digerakkan korporasi. Segala sumber daya dan kapital dimiliki korporasi mulai dari tanah, gedung, pabrik, bahan baku. 

Sementara sharing economy, digerakkan oleh individu-individu yang berbagi sumber daya dan kapital. Pemilik usaha bukan lagi korporasi, melainkan orang per orang.

(Baca : Demo Sopir Taksi dan Fenomena "Sharing Economy")

Pergeseran dari owning economy ke sharing economy sebenarnya telah terjadi sejak awal abad ke-21, seperti ditulis Thomas L Friedman dalam bukunya The World Is Flat (2005).

Menurut Friedman, pergeseran akan semakin kencang dan masif seiring makin datarnya dunia akibat globalisasi dan perkembangan digital.

Saat ini, owning economy dinilai memiliki banyak kelemahan antara lain boros, menganggur, dan tak produktif. Akibat tak lincah bermanuver, korporasi makin tidak efisien. Asetnya banyak yang menganggur alias idle capacity.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tata kelola keuangan korporasi juga rigid. Semua aset dan investasi dihitung sebagai cost yang kemudian ditransmisikan ke dalam harga yang dijual ke konsumen.

Sementara, tata kelola keuangan sharing economy tidak serigid owning economy. Karena batas antara kepentingan pribadi dan usaha tidak jelas, banyak pos-pos yang sebetulnya merupakan biaya, tidak dianggap cost oleh sharing economy.

Dalam konteks taksi online misalnya, aset yang tidak diperhitungkan sebagai cost antara lain biaya perawatan mobil, biaya penyusutan aset, keamanan, dan sewa tempat.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.