Kompas.com - 27/03/2016, 08:17 WIB
Gabungan sopir taksi dan bajaj memarkirkan taksi di kawasan Monumen Nasional saat melakukan aksi demonstrasi di Jakarta, Selasa (22/3/2016). Mereka menuntut pemerintah menutup angkutan umum berbasis online karena dianggap mematikan mata pencaharian mereka. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESGabungan sopir taksi dan bajaj memarkirkan taksi di kawasan Monumen Nasional saat melakukan aksi demonstrasi di Jakarta, Selasa (22/3/2016). Mereka menuntut pemerintah menutup angkutan umum berbasis online karena dianggap mematikan mata pencaharian mereka. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES
EditorAmir Sodikin

Karena lepas dari regulasi dan tata kelola perusahaan yang standar, sharing economy biasanya juga terhindar dari kewajiban membayar pajak penghasilan usaha, biaya asuransi, biaya perizinan dan pengecekan berkala dari otoritas.

Dengan kondisi seperti itu, akhirnya banyak komponen biaya yang bisa dipangkas oleh sharing economy. Dampaknya, sharing economy bisa menghasilkan produk yang harganya jauh lebih murah ketimbang owning economy.

Inilah yang membuat mengapa taksi online seperti GrabCar dan Uber bisa mematok tarif taksi hanya Rp 3.000 – 3.500 per km, sementara taksi konvensional seperti Blue Bird dan Express mematok Rp 4.000 per km ditambah biaya buka pintu Rp 7.500.

Dengan perbandingan seperti itu, untuk perjalanan yang identik, tarif taksi online bisa lebih murah 25 – 30 persen ketimbang taksi konvensional. Dengan kata lain, ongkos taksi online rata-rata hanya 75 persen dari ongkos taksi konvensional.

Dengan membedah laporan keuangan Blue Bird misalnya, maka akan terlihat bagaimana komposisi komponen-komponen pembentuk harga.

Berdasarkan hasil bedah laporan keuangan Blue Bird, komponen utama pembentuk harga atau distribusi pendapatan terdiri dari beban langsung, biaya operasional, margin keuntungan, dan pajak penghasilan.

Komposisinya adalah beban langsung sekitar 70 persen, beban usaha sekitar 8,5 persen, margin keuntungan sekitar 15,5 persen, dan pajak penghasilan usaha sekitar 5 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Margin keuntungan merupakan laba yang diterima korporasi atau pemilik korporasi, dalam hal ini PT Blue Bird Tbk.

Besaran margin keuntungan ini hampir sama dengan yang dipatok GrabCar atau Uber. Kedua penyedia jasa aplikasi taksi online itu mengambil 15 – 20 persen dari setiap transaksi.

Dengan demikian, tidak ada perbedaan dalam hal margin keuntungan antara taksi konvensional dan taksi online.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.