Ini Alasan BI Perkenalkan Suku Bunga Acuan Baru 7-Day Repo Rate

Kompas.com - 15/04/2016, 19:30 WIB
Konferensi pers reformulasi kebijakan moneter Bank Indonesia, Jumat (15/4/2016). Sakina Rakhma Diah Setiawan/Kompas.comKonferensi pers reformulasi kebijakan moneter Bank Indonesia, Jumat (15/4/2016).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) mengumumkan memperkenalkan suku bunga acuan dari yang sebelumnya BI Rate sesuai dengan bunga dengan tenor 12 bulan, kini yang menjadi BI 7-day Repo Rate, yaitu bunga dengan tenor 7 hari.

Kebijakan ini akan berlaku mulai 19 Agustus 2016.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menjelaskan, kebijakan ini untuk memperdalam pasar keuangan Indonesia dan menyesuaikan praktik terbaik bank sentral di berbagai negara.

"Di periode 2008 sampai 2010 BI rate itu bisa mempengaruhi suku bunga overnight perbankan sangat efektif. Pada periode itu, BI rate naik bunga antar bank naik, begitu sebaliknya. Tapi setelah itu, keduanya terpisah," kata Mirza di kantornya, Jumat (15/4/2016).

Sejak 2010, BI Rate kurang bisa mengendalikan suku bunga antar bank. Mirza menjelaskan, ini karena dampak kebijakan quantitative easing oleh Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat (AS).

Sebagai negara berkembang, Indonesia menjadi salah satu negara yang kebanjiran dana akibat pelonggaran kebijakan moneter oleh AS tersebut.

Apa yang dialami Indonesia selama ini, terutama mengenai kebijakan moneter yang diterapkan Bank Indonesia kurang mengikuti best practice yang diterapkan bank-bank sentral di berbagai negara maju di dunia.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selama kurun waktu 5 tahun ini, kebijakan makro ekonomi Indonesia belum terlalu stabil. Hal ini dilihat dari Current Account Deficit (CAD) yang melebar, inflasi yang masih tinggi dan masih besarnya subsidi di APBN.

"Saat ini menurut kami, saat yang tepat Bank Indonesia kembali kepada best practice itu karena saat ini outlook inflasi undercontrol, salah satu komponen subsidi di dalam APBN sudah kecil, dulu sampai 30 persen APBN, saat ini hanya 10 persen APBN," ujar Mirza.

(Baca: BI Perkenalkan Suku Bunga Acuan Baru, Efektif 19 Agustus 2016)

Kompas TV BI Rate Landai, Risiko Investasi Turun



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Belanja Hemat Akhir Pekan, Manfaatkan Promo Indomaret Selama 3 Hari

Belanja Hemat Akhir Pekan, Manfaatkan Promo Indomaret Selama 3 Hari

Whats New
ICAEW Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen pada 2021

ICAEW Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen pada 2021

Whats New
Kasus Covid-19 Melonjak, PNS Dilarang Cuti Saat Libur Nasional

Kasus Covid-19 Melonjak, PNS Dilarang Cuti Saat Libur Nasional

Whats New
Sedang Cari Lowongan Pekerjaan? Segera Kunjungi Digital Career Expo 2021

Sedang Cari Lowongan Pekerjaan? Segera Kunjungi Digital Career Expo 2021

Rilis
Libur Nasional dan Cuti Bersama 2021 Direvisi Lagi, Apa Saja Yang Diganti ?

Libur Nasional dan Cuti Bersama 2021 Direvisi Lagi, Apa Saja Yang Diganti ?

Whats New
Pertamina Group Buka Lowongan Kerja, Cek Posisi dan Syaratnya

Pertamina Group Buka Lowongan Kerja, Cek Posisi dan Syaratnya

Work Smart
Kemnaker Gagalkan Pengiriman 11 Pekerja Migran Ilegal

Kemnaker Gagalkan Pengiriman 11 Pekerja Migran Ilegal

Rilis
Menaker Sebut Upah Buruh Turun 5,2 Persen Selama Pandemi Covid-19

Menaker Sebut Upah Buruh Turun 5,2 Persen Selama Pandemi Covid-19

Whats New
Bangun PLTA di Sumbar, PLN Dapat Dana Hiba Rp 20,55 dari Perancis

Bangun PLTA di Sumbar, PLN Dapat Dana Hiba Rp 20,55 dari Perancis

Whats New
Lelang Aset Asabri dan Jiwasraya, DJKN: Target Dapat Hasil Setinggi-tingginya

Lelang Aset Asabri dan Jiwasraya, DJKN: Target Dapat Hasil Setinggi-tingginya

Whats New
Kemenhub Mediasi Penyelesaian Santunan Pelaut RI yang Meninggal di Singapura

Kemenhub Mediasi Penyelesaian Santunan Pelaut RI yang Meninggal di Singapura

Whats New
Kapan Moge dan Brompton Selundupan Mantan Dirut Garuda Dilelang? Ini Kata DJKN

Kapan Moge dan Brompton Selundupan Mantan Dirut Garuda Dilelang? Ini Kata DJKN

Whats New
[TREN TEKNOLOGI KOMPASIANA] Perawatan Spooring dan Balancing | Masyarakat Jepang Ogah Gunakan Kendaraan Pribadi

[TREN TEKNOLOGI KOMPASIANA] Perawatan Spooring dan Balancing | Masyarakat Jepang Ogah Gunakan Kendaraan Pribadi

Rilis
IHSG Anjlok 1 Persen di Akhir Pekan, Rupiah Ikut Melemah

IHSG Anjlok 1 Persen di Akhir Pekan, Rupiah Ikut Melemah

Whats New
Saham Unilever Indonesia Anjlok 30,95 Persen sejak Awal Tahun, Ini Pemicunya

Saham Unilever Indonesia Anjlok 30,95 Persen sejak Awal Tahun, Ini Pemicunya

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X