Kementan: Peningkataan Produksi Kedelai Lokal Masih Lambat

Kompas.com - 26/04/2016, 05:01 WIB
Pekerja memperlihatkan kedelai impor di toko Sinar Kedele di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (2/3/2013). KOMPAS/PRIYOMBODOPekerja memperlihatkan kedelai impor di toko Sinar Kedele di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (2/3/2013).
Penulis Achmad Fauzi
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pertanian (Kementan) mengemukakan bahwa produksi kedelai di tingkat petani lokal masih lambat. Penyebabnya, petani malas menanam kedelai karena harganya tak ekonomis.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi (Buakabi) Kementan, Maman Suherman dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (25/4/2016). 

Data Kementan menunjukkan, produksi kedelai lokal pada 2015 sebesar 0,96 juta ton sementara konsumsi kedelai nasional 2,4 ton-2,5 ton per tahun.

Untuk menambah kekurangan, Kementan akan mengimpor kedelai. "Produksi yang lambat disebabkan minat petani yang turun. Itu juga disebabkan oleh harga di tingkat petani yang rendah sebesar Rp 2.500 per kilo.  Sehingga petani malas menanam kedelai," kata Maman.

Menurut dia, walaupun turun tapi ada perkembangan positif dari produksi kedelai lokal. Kedelai lokal punya banyak keunggulan dibandingkan dengan kedelai impor.

Kedelai lokal punya protein yang tinggi. Produksi kedelai lokal juga 10 kali lebih tinggi dengan masa panen sekitar 75 hari.

Untuk mengatasi perlambatan produksi tersebut, Kementan akan terus memberikan subsidi bibit dan benih. Kementan juga akan memberikan subsidi berupa lahan seluas 700 hektare di berbagai wilayah di Indonesia.

"Upaya-upaya untuk meningkatkan produksi itu terus kami lakukan, dan menurut kami potensi peningkatan produksi kedelai peluangnya ada," kata Maman.

(Baca: Ini Rencana Impor Kedelai dan Gula Tahun Depan)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X