Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Muhammad Fajar Marta

Wartawan, Editor, Kolumnis 

Kinerja Bank BUMN : Laba Stagnan, Kredit Bermasalah Melonjak

Kompas.com - 09/05/2016, 07:25 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorWisnubrata

Bank BUMN merupakan kelompok bank paling berpengaruh dalam industri perbankan Indonesia.

Keempat bank BUMN yakni Bank BRI, Mandiri, BNI, dan BTN berturut-turut merupakan bank terbesar nomor satu, dua, empat, dan enam dari total 118 bank di Indonesia .

Per akhir 2015, total aset keempat Bank BUMN tersebut mencapai Rp 2.445,47 triliun, atau 40 persen dari total aset industri perbankan nasional sebesar Rp 6.132,58 triliun.

Karena berposisi sebagai market leader dengan pangsa pasar yang besar, kinerja Bank BUMN sangat memengaruhi kinerja perbankan nasional.

Jika kinerja bank-bank BUMN bagus, maka kinerja industri perbankan keseluruhan juga akan bagus. Begitu pula sebaliknya.

Seminggu terakhir, sebagian besar bank telah mempublikasikan kinerja keuangannya selama triwulan I 2016, begitu pula bank-bank BUMN.

Dari potret kinerja triwulan I 2016, ada sejumlah isu yang menarik untuk dibahas.

Secara umum, kinerja bank BUMN selama triwulan I 2016 masih lemah seiring terus berlanjutnya perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Perlambatan ekonomi domestik tidak terlepas dari pemulihan ekonomi global yang masih lemah.

Ekonomi di Eropa dan Jepang masih terpuruk. Pemulihan ekonomi Amerika Serikat pun belum solid.

Sementara ekonomi Tiongkok, meskipun mengarah ke kondisi yang lebih stabil, namun risiko pelemahan masih tinggi.

Di dalam negeri, akselerasi belanja modal dan barang pemerintah pusat terkait pembangunan infrastruktur belum mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Pasalnya, faktor pendorong lain yakni investasi, ekspor, dan konsumsi rumah tangga belum menggembirakan.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia selama triwulan I 2016 hanya 4,92 persen, melambat dibandingkan triwulan IV 2015 yang sebesar 5,04 persen.

Karena sektor riil lesu, penyaluran kredit, termasuk oleh bank-bank BUMN pun melemah.

Pertumbuhan kredit BRI, BNI, dan BTN per akhir Maret 2016 dibandingkan akhir tahun 2015 berturut-turut hanya 0,48 persen, 0,19 persen, dan 2,87 persen.

Perbandingan menggunakan posisi akhir 2015 karena yang ingin dipotret hanyalah kinerja bank BUMN selama triwulan I 2016.

Bank Mandiri belum mempublikasikan laporan keuangan bulan Maret 2016. Laporan Bank Mandiri yang tersedia hanya sampai Februari 2016.

Jika melihat kinerja Bank Mandiri sampai bulan Februari 2016, pertumbuhan kreditnya justru minus.

Posisi kredit Bank Mandiri per akhir Februari 2016 sebesar Rp 508,97 triliun, turun dibandingkan posisi akhir 2015 yang sebesar Rp 595,46 triliun.

Kinerja Bank Mandiri pada triwulan I 2016 bisa saja lebih baik jika selama bulan Maret mampu menyalurkan kredit secara signifikan.

Sumber : BRI Jaringan Kantor Bank BRI

 

Sumber : Bank Mandiri Jaringan Kantor Bank Mandiri

 

Kredit bermasalah melonjak

Di tengah perlambatan laju kredit, pinjaman bermasalah (non performing loan/NPL) bank BUMN justru melonjak.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Hingga April 2024, Jumlah Investor Kripto di Indonesia Tembus 20,16 Juta

Hingga April 2024, Jumlah Investor Kripto di Indonesia Tembus 20,16 Juta

Whats New
KA Banyubiru Layani Penumpang di Stasiun Telawa Boyolali Mulai 1 Juni 2024

KA Banyubiru Layani Penumpang di Stasiun Telawa Boyolali Mulai 1 Juni 2024

Whats New
Ekonom: Iuran Tapera Tak Bisa Disamakan Dengan BPJS

Ekonom: Iuran Tapera Tak Bisa Disamakan Dengan BPJS

Whats New
Pertamina-Medco Tambah Aliran Gas ke Kilang LNG Mini Pertama di RI

Pertamina-Medco Tambah Aliran Gas ke Kilang LNG Mini Pertama di RI

Whats New
Strategi Industri Asuransi Tetap Bertahan saat Jumlah Klaim Kian Meningkat

Strategi Industri Asuransi Tetap Bertahan saat Jumlah Klaim Kian Meningkat

Whats New
Baru Sebulan Diangkat, Komisaris Independen Bank Raya Mundur

Baru Sebulan Diangkat, Komisaris Independen Bank Raya Mundur

Whats New
Integrasi Infrastruktur Gas Bumi Makin Efektif dan Efisien Berkat Inovasi Teknologi

Integrasi Infrastruktur Gas Bumi Makin Efektif dan Efisien Berkat Inovasi Teknologi

Whats New
CEO Singapore Airlines Ucapkan Terima Kasih ke Staf Usai Insiden Turbulensi

CEO Singapore Airlines Ucapkan Terima Kasih ke Staf Usai Insiden Turbulensi

Whats New
BTN-Kadin Garap Pembiayaan 31 Kawasan Industri di Jabar

BTN-Kadin Garap Pembiayaan 31 Kawasan Industri di Jabar

Whats New
Pembiayaan Baru BNI Finance Rp 1,49 Triliun pada Kuartal I 2024, Naik 433 Persen

Pembiayaan Baru BNI Finance Rp 1,49 Triliun pada Kuartal I 2024, Naik 433 Persen

Whats New
Asosiasi Pekerja Tolak Pemotongan Gaji untuk Iuran Tapera

Asosiasi Pekerja Tolak Pemotongan Gaji untuk Iuran Tapera

Whats New
TRON Hadirkan Kendaraan Listrik Roda Tiga untuk Kebutuhan Bisnis dan Logistik

TRON Hadirkan Kendaraan Listrik Roda Tiga untuk Kebutuhan Bisnis dan Logistik

Whats New
Asosiasi: Permendag 8/2024 Bikin RI Kebanjiran Produk Garmen dan Tekstil Jadi

Asosiasi: Permendag 8/2024 Bikin RI Kebanjiran Produk Garmen dan Tekstil Jadi

Whats New
Dewan Periklanan Indonesia: RPP Kesehatan Bisa Picu PHK di Industri Kreatif dan Media

Dewan Periklanan Indonesia: RPP Kesehatan Bisa Picu PHK di Industri Kreatif dan Media

Whats New
Pekerja Wajib Ikut Iuran Tapera, Ekonom: Lebih Baik Opsional

Pekerja Wajib Ikut Iuran Tapera, Ekonom: Lebih Baik Opsional

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com