Pengelolaan Sawit Swadaya Berkelanjutan di Kabupaten Sintang, Upaya Mendorong Perekonomian Masyarakat

Kompas.com - 12/05/2016, 13:30 WIB
Ilustrasi. Bibit unggul kelapa sawit milik PT Musim Mas, perusahaan yang sudah mendapatkan sertifikat RSPO, di Kabupaten Pelawatan, Provinsi Riau. KOMPAS.com/ FARID ASSIFAIlustrasi. Bibit unggul kelapa sawit milik PT Musim Mas, perusahaan yang sudah mendapatkan sertifikat RSPO, di Kabupaten Pelawatan, Provinsi Riau.

SINTANG, KOMPAS.com – Kelapa sawit merupakan salah satu sektor perkebunan yang berkembang pesat di Kabupaten Sintang. Komoditi ini, dalam waktu yang singkat dapat menyusul dominasi sektor perkebunan karet yang selama ini menjadi andalan masyarakat.

Kondisi tersebut dapat dilihat dari hasil survei yang dilakukan oleh Fasilitator Daerah (Fasda) Sawit Lestari yang terhadap 7 kecamatan di Kabupaten Sintang di akhir tahun 2014.

Dalam survei tersebut, tercatat total luasan 2.195,44 hektare dimiliki oleh 449 petani sawit swadaya.

Namun, terlepas dari luasan lahan, upaya masyarakat untuk membangun kebun sawit swadaya ini belum diimbangi dengan pengetahuan budidaya yang baik dari petani maupun kesiapan pendampingan dari pemerintah.

Kabupaten Sintang merupakan kabupaten yang terletak di wilayah timur Provinsi Kalimantan Barat dengan perputaran ekonomi utama digulirkan oleh sektor pertanian.

Pemerintah daerah dalam menetapkan kebijakan pembangunan telah menempatkan pertanian dalam urutan yang paling strategis karena pertanian dianggap mampu untuk menopang perekonomian masyarakat di Kabupaten Sintang.

Hal ini didukung oleh potensi sumber daya alam untuk pengembangan pertanian yang mendorong pertumbuhan kegiatan agribisnis lainnya.

“Kurangnya pengetahuan dan pendampingan ini berakibat pada kurangnya produktivitas kebun. Di sisi lain, kepastian usaha dalam konteks pemasaran juga akan menjadi kendala nantinya," ujar Subarjo, Ketua Fasda Sawit Lestari dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (11/5/2016) .

Pemasaran Tandan Buah Segar (TBS) ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dilakukan dengan cara menumpang dengan TBS plasma. Dengan Tanaman Menghasilkan (TM) yang muda tersebut, rendemen menjadi kecil dan harganya juga berkurang.

Hal ini mengakibatkan ada pihak yang dirugikan, dalam hal ini baik pihak PKS maupun petani yang ditumpangi TBS-nya tersebut.

Sementara itu, Kepala Bidang SDM dan Kelembagaan Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian Perikanan Kehutanan dan Ketahanan Pangan (BP4KKP) Kabupaten Sintang, Joko Sri Sadono mengungkapkan, pembangunan perkebunan kelapa sawit yang tidak berkelanjutan akan berdampak buruk pada lingkungan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X