Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia dan Jepang Tingkatkan Kemitraan Ekonomi

Kompas.com - 19/05/2016, 15:16 WIB

KOMPAS.com - Indonesia dan Jepang meningkatkan kemitraan ekonomi bilateral berdasarkan Economic Partnership Agreements (EPA). Kemitraan itu sudah diteken sejak 2008. Menurut siaran pers Japan Asia Medical Nurse Association (JAMNA) pada Senin (12/5/2016), pada bulan ini, berlangsung kerja sama antara JAMNA dan Kaikoukai Clinic Senayan serta Universitas Indonesia (UI) melalui program Beasiswa JAMNA/Top Career Global Scholarship 2016. Ada lima mahasiswa UI yang mendapat beasiswa tersebut masing-masing 1 mahasiswa Fakultas Kedokteran, 2 dari Fakultas Ilmu Keperawatan, dan 2 dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.

JAMNA berbentuk yayasan nirlaba yang didirikan oleh dr. Hirohisa Kawahara di Nagoya Jepang. Yayasan ini didirikan dengan maksud membantu warga Asia dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masing-masing yang berkaitan dengan ilmu pengobatan medis dan keperawatan. Pelaksanaannya dilakukan melalui program pertukaran tenaga kesehatan. Para warga Asia itu  mengikuti pelatihan di Jepang dengan dukungan beasiswa kepada ahasiswa Asia untuk belajar ilmu pengobatan medis dan keperawatan di negaranya masing-masing. Keberadaan JAMNA banyak mendapat dukungan dari perusahaan-perusahaan di Jepang yang mayoritas bergerak di bidang perawatan kesehatan.

“Kami ingin menularkan standar kesehatan Jepang yang tinggi ke negara-negara di Asia, untuk itu kami rancang program-program bantuan untuk meningkatkan pengetahuan medis dan keperawatan yang pada gilirannya dapat meningkatkan standar kualitas kesehatan masyarakat Asia”, kata dr. Kawahara.

Indonesia banyak mengirimkan perawat ke Jepang seturut EPA. Namun, tidak sedikit dari para perawat tersebut yang gagal mengikuti ujian nasional keperawatan Jepang dan terpaksa kembali ke Tanah Air. JAMNA membantu perawat-perawat Indonesia eks program EPA yang  belum berhasil tersebut mengikuti kembali ujian nasional keperawatan Jepang. Sebelumnya, mereka diikutsertakan dalam pelatihan-pelatihan JAMNA.

“Secara rutin kami mendukung para perawat Indonesia peserta program EPA (yang belum berhasil lulus), untuk kembali mendapatkan kesempatan mengikuti Ujian Nasional Keperawatan Jepang. Dalam tiga tahun sejak JAMNA berdiri, tercatat sudah 19 perawat Indonesia yang kami bantu,” imbuh Kawahara.

Kecuali itu JAMNA juga telah mendatangkan dokter-dokter spesialis ginjal Indonesia untuk mengikuti pelatihan selama dua bulan di Jepang. Para dokter itu ditempatkan  di Klinik–klinik Hemodialisa Kaikoukai, Rumah Sakit Kaikoukai, dan Universitas Nagoya. Kini, tercatat sudah tujuh dokter Indonesia yang telah mengikuti pelatihan ini.

Bantuan yang diberikan kepada para tenaga kesehatan tersebut termasuk biaya program belajar di Jepang, biaya perjalanan ke dan dari Jepang, serta uang saku selama belajar.

Sementara itu, laman Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), www.bnp2tki.go.id, menunjukkan setahun silam, ada 285 orang lulus ujian bekerja sebagai perawat di Jepang. Dari jumlah itu, 68 TKI perawat untuk rumah sakit dan 217 TKI perawat orangtua usia lanjut atau (careworker). Pada 2014, kelulusan ini baru mencapai 187 orang.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Dana 'Stunting' Dipakai untuk Perbaiki Pagar, Anggaran Revolusi Mental Dibelikan Motor Trail

Dana "Stunting" Dipakai untuk Perbaiki Pagar, Anggaran Revolusi Mental Dibelikan Motor Trail

Whats New
Pasar Otomotif Lesu, Perusahaan Pembiayaan Beralih ke Mobil Bekas dan Dana Tunai

Pasar Otomotif Lesu, Perusahaan Pembiayaan Beralih ke Mobil Bekas dan Dana Tunai

Whats New
Pengangkatan Komisaris BUMN: Antara Transparansi dan Kontroversi

Pengangkatan Komisaris BUMN: Antara Transparansi dan Kontroversi

Whats New
Pagu Indikatif Kemenparekraf Rp 1,7 Triliun, Sandiaga Uno Minta Tambah Rp 3 Triliun

Pagu Indikatif Kemenparekraf Rp 1,7 Triliun, Sandiaga Uno Minta Tambah Rp 3 Triliun

Whats New
Bantu UMKM Naik Kelas, Bank Mandiri Hadirkan Mandiri Digipreneur Hub 

Bantu UMKM Naik Kelas, Bank Mandiri Hadirkan Mandiri Digipreneur Hub 

Whats New
Nilai Tukar Rupiah Dekati Rp 16.300 per Dollar AS, Ini Penjelasan Bi

Nilai Tukar Rupiah Dekati Rp 16.300 per Dollar AS, Ini Penjelasan Bi

Whats New
'Startup' Chickin Siap Dukung Ketahanan Pangan Indonesia

"Startup" Chickin Siap Dukung Ketahanan Pangan Indonesia

Whats New
Politisi Gerindra Siti Nurizka Jadi Komut Pusri, Dirut Pupuk Indonesia: Itu Pasti yang Terbaik

Politisi Gerindra Siti Nurizka Jadi Komut Pusri, Dirut Pupuk Indonesia: Itu Pasti yang Terbaik

Whats New
4 Tips Atur Keuangan untuk Beli Hewan Kurban

4 Tips Atur Keuangan untuk Beli Hewan Kurban

Spend Smart
Permintaan Naik, Industri Gas RI Diprediksi Bakal Makin Bergantung pada LNG

Permintaan Naik, Industri Gas RI Diprediksi Bakal Makin Bergantung pada LNG

Whats New
Alih-alih Bangun LRT Bali Senilai Rp 14,19 Triliun, Pengamat Sarankan Ini untuk Atasi Kemacetan di Bali

Alih-alih Bangun LRT Bali Senilai Rp 14,19 Triliun, Pengamat Sarankan Ini untuk Atasi Kemacetan di Bali

Whats New
Rehabilitasi DAS Area Tambang: Tambah Luasan Hijau dan Ekonomi Sirkular Bernilai Miliaran

Rehabilitasi DAS Area Tambang: Tambah Luasan Hijau dan Ekonomi Sirkular Bernilai Miliaran

Whats New
Kisah Sukses Bisnis Elizabeth Bertahan Lebih dari 60 Tahun, Awalnya Bermodal Rp 10.000

Kisah Sukses Bisnis Elizabeth Bertahan Lebih dari 60 Tahun, Awalnya Bermodal Rp 10.000

Smartpreneur
Masih Belum Terima Gaji ke-13? Ini Data Teranyar Penyalurannya

Masih Belum Terima Gaji ke-13? Ini Data Teranyar Penyalurannya

Whats New
OJK: Kredit Kendaraan Listrik Tembus Rp 4,39 Triliun per April 2024

OJK: Kredit Kendaraan Listrik Tembus Rp 4,39 Triliun per April 2024

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com