Bisnis Barang Bekas Bikin Wanita Ini Jadi Miliarder

Kompas.com - 31/05/2016, 08:27 WIB
Ilustrasi belanja online www.shutterstock.comIlustrasi belanja online
|
EditorLatief

Tak sekadar jualan

Di Indonesia segelintir orang sudah mulai terinspirasi model bisnis barang bekas seperti yang dilakukan Linda. Terlebih lagi, deretan situs belanja online asal Indonesia mulai bisa dimanfaatkan.

Hasil jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas terhadap responden di 14 kota besar di Indonesia melalui telepon pada 9-11 April 2016, menyebutkan, setidaknya 16,3 persen di antaranya mengaku pernah menjual barang bekas melalui toko online.

Hasil lainnya, dua dari lima responden mengatakan barang bekas yang dijual melalui situs belanja lebih cepat laku. Tak hanya itu, sebagian besar juga menikmati mudahnya bertransaksi dengan pembeli. Bahkan, satu dari 10 responden merasa hampir semua jenis barang bekas yang mereka miliki dapat dijadikan uang segar.


Banyaknya jenis barang bekas terlihat dari kategori barang yang disediakan sejumlah situs web belanja. Beberapa situs belanja biasanya menawarkan lebih dari lima kategori. Di antaranya, gadget, fashion, peralatan rumah tangga, dan hobi.

Bahkan, untuk merangkul penjual barang bekas, tidak jarang situs web belanja online mengadakan beragam event promosi menarik. Selain pemberian insentif seperti hadiah bagi user yang berhasil menjual dengan nilai transaksi tertentu, situs web itu juga kerap mengajak user untuk ikut melakukan gerakan sosial.

OLX Indonesia, misalnya, menggelar kegiatan rutin #BekasJadiBerkah untuk mengajak user membantu sesama dengan berjualan barang bekas selama bulan suci Ramadhan.

Angka partisipasinya pun pada 2015 cukup besar. Bekerja sama dengan beberapa yayasan, penjual barang bekas di OLX yang mengikuti kegiatan tersebut bisa memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

SHUTTERSTOCK Ilustrasi

Meski peluang bisnis dari barang bekas terbuka lebar, bukan berarti mudah menjalankannya. Linda saja butuh 15 tahun untuk menjadi miliarder seperti sekarang.

Meski tak ada biaya besar seperti bisnis yang harus memiliki toko konvensional, bisnis online tetap memiliki risiko. Masih merujuk data Litbang Kompas, setidaknya tujuh dari sepuluh responden khawatir dengan risiko tertipu bila berbelanja di situs online.

Karenanya, penjual pun harus menghitung reputasi dari situs belanja online yang akan digunakannya melego dagangan. Jangan karena noda reputasi dari user lain di wadah yang tidak tepat, dagangan kita yang malah tidak kunjung laku.

Siap menjadi miliarder seperti Linda?

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X