WOM Finance dan Polda Sumut Kerja Sama Pengamanan Eksekusi Jaminan Fidusia

Kompas.com - 11/06/2016, 19:00 WIB
Direktur Ditreskrimsus Poldasu Kombes Pol Drs Toga Habinsaran Panjaitan berbicara di hadapan Kasat Reskrim sejajaran Polda Sumut pada seminar yang diadakan WOM Finance, Sabtu (11/6/2016) KOMPAS.com/Mei LeandhaDirektur Ditreskrimsus Poldasu Kombes Pol Drs Toga Habinsaran Panjaitan berbicara di hadapan Kasat Reskrim sejajaran Polda Sumut pada seminar yang diadakan WOM Finance, Sabtu (11/6/2016)
|
EditorAprillia Ika

MEDAN, KOMPAS.com - Kening Yunar berkerut saat ditanya apakah dirinya pernah mendengar atau mengetahui UU Fidusia. Padahal ibu satu anak ini sedang mengangsur sepeda motornya di salah satu lembaga finance yang sudah familiar.

Menurutnya, saat menandatangi berlembar-lembar kertas yang diserahkan petugas leasing, dirinya tidak sempat membaca atau bertanya apa saja yang tertera di atas kertas tersebut.

Petugas leasing juga tidak ada memberitahukan apapun. Mereka hanya menunjukkan di mana dia harus membubuhkan tanda tangan.

Bagi yang belum tahu, perjanjian fidusia adalah perjanjian hutang piutang antara kreditor dengan debitor yang melibatkan penjaminan. Jaminan tersebut kedudukannya masih dalam penguasaan pemilik jaminan.

Untuk menjamin kepastian hukum bagi kreditor maka dibuatlah akta oleh notaris dan didaftarkan ke kantor Pendaftaran Fidusia. Nanti kreditor akan memperoleh sertifikat jaminan fidusia.

Dengan demikian, jaminan fidusia memiliki kekuatan hak eksekutorial langsung apabila debitor melakukan pelanggaran perjanjian fidusia kepada kreditor (parate eksekusi) sesuai UU Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.

Maka, ketika Yunar menunggak kredit sepeda motornya hampir dua bulan. Telepon selulernya berdering tak henti, begitu juga SMS, dengan nomor berganti-ganti. Dari orang-orang yang mengaku dept kolektor. Mereka meminta agar segera melunasi angsuran atau akan menarik sepeda motornya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Yunar belajar dari pengalaman temannya, yang sepeda motornya ditarik padahal tinggal satu bulan lagi angsurannya dan tidak ada mendapat ganti rugi uang kembali. Dia pun memilih kucing-kucingan sama debt kolektor yang terkenal galak dan sadis itu. Sampai uangnya cukup untuk menebus tunggakan dan dendanya.

Kejadian seperti Yunar, bukan hal yang jarang terjadi. Hampir setiap hari ada kasus perampasan kendaraan di jalanan oleh debt kolektor. Kebanyakan korbannya pasrah karena takut dan tidak bisa berdebat. Atau ada yang berani, membuat pengaduan polisi.

Tapi biasanya, perkara pidana terus berjalan, kendaraan yang dirampas paksa tak pernah kembali.

Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X