Kemenperin Kembangkan Desa Industri Mandiri di Daerah

Kompas.com - 16/06/2016, 21:41 WIB
Menteri Perindustrian Saleh Husin saat menghadiri listing SHIP Kompas.com/ Iwan SupriyatnaMenteri Perindustrian Saleh Husin saat menghadiri listing SHIP
|
EditorJosephus Primus

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian terus mengembangkan program Desa Industri Mandiri (DIM) guna membangun industri kecil dan menengah (IKM) berbasis inovasi teknologi di berbagai daerah. “Program DIM ini akan melahirkan wirausaha baru IKM berbasis bioteknologi yang mampu mengolah hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan,” kata Sekjen Kemenperin Syarif Hidayat mewakili Menteri Perindustrian pada Focus Group Discussion (FGD) Pembangunan Desa Industri Mandiri (DIM) di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (16/6/2016). “Program DIM juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa,” ujarnya.

Syarif menambahkan, dalam rangka menyukseskan program DIM ini, diperlukan sinergi yang harmonis antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kelompok masyarakat setempat serta dukungan pendampingan oleh perguruan tinggi. “Kementerian Perindustrian telah bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang tertuang dalam MoU Implementasi Model Pengembangan IKM dan Wirausaha Berbasis Inovasi Teknologi terkait pengembangan DIM,” tuturnya.

Sejak periode 2013-2015, program DIM telah dilaksanakan di 11 kabupaten/kota. “Kabupaten tersebut, di antaranya Bone Bolango (Provinsi Gorontalo), Sidrap (Sulawesi Selatan), Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat), serta beberapa kabupaten di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Lampung,” katanya.

Syarif menjelaskan, pembangunan DIM pada tahun 2016 akan dilaksanakan di empat kabupaten/kota, yaitu Sanggau (Provinsi Kalimantan Barat), Minahasa (Sulawesi Utara), Buol (Sulawesi Tengah) dan Blitar (Provinsi Jawa Timur).

Dirjen IKM Kemenperin Euis Saedah mengatakan, pengembangan inovasi teknologi yang diterapkan pada program DIM selama ini telah teruji keberhasilannya dan cukup banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pedesaan atau pesisir. “Beberapa temuan yang diterapkan itu, di antaranya inovasi bioteknologi pupuk organik cair (POC) dan nutrisi organik cair (NOC), inovasi teknologi pegaraman, serta inovasi pembuatan tepung mangrove,” tuturnya.

Euis berharap, adanya progam ini dapat menumbuhkan industri inti yang dapat mendorong pertumbuhan industri berbasis inovasi teknologi. Meningkatnya kompetensi SDM, tumbuhnya wirausaha baru, penyerapan tenaga kerja lokal, dan meningkatnya perekonomian desa.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X