Wirausaha Kuliner: Pengalaman Kedai Tjikini dan Organic Fried Chicken

Kompas.com - 17/06/2016, 08:59 WIB
EditorWisnubrata

dokumen pribadi Dharmawan Handonowarih alias Dehawe, co founder Warung Tjikini
Dehawe, panggilan sehari-hari Dharmawan, punya keterampilan memasak berkat ilmu dari sang ibu.

“Ibu saya adalah tukang masak sejati. Setiap hari ia memasak menu yang berbeda. Dari sayuran, daging, sampai ikan. Ia juga membuat kue, membuat macam-macam minuman, selai, manisan, puding, tapai, tumpeng, dan banyak lagi. Menu-menu rumahan gitu,” paparnya.

Ketika mimpi punya warung makan itu mau diwujudkan, Dehawe melongok pada romantisme menu rumahan tadi. Ia ingin keluar dari pakem warung makan mainstream yang rata-rata menawarkan menu mie, pecel lele dan ayam goreng, atau nasi goreng.

Maka, konsep “menu rumahan” itulah yang kemudian menjadi andalan utama kedai ini. 

“Saya ini juga penggemar gedung tua dan peminat dalam bidang interior. Semestinya sebuah kedai juga bisa menawarkan suasana yang menyenangkan tanpa harus mempunyai pretensi berlebihan. Yang ingin dibangun bukan sekadar warung kopi (coffee shop), tapi sebuah kedai, di mana ada makanan, minuman, dan obrolan; ada kehangatan dari yang datang dan berbincang di sana,” jelas mantan pemimpin redaksi sebuah majalah ini.

Menggabungkan cita-cita dan passion itu, mereka akhirnya menemukan sebuah tempat di Jalan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Semula, tempat itu adalah restoran yang sudah mau tutup. Bentuknya adalah rumah tua yang dibangun sekitar tahun 1930-an.

Dehawe dan kawan-kawannya kemudian merenovasi, terutama pada bidang mekanikal dan elektrikalnya, lalu mengembalikan interior bangunan itu menjadi “lawasan”.  Ia angkut semua koleksi furnitur yang ia punya, mulai dari sofa, bufet, lemari, termasuk 40 kursi lawas unik yang ia beli di Jalan Kebahagiaan, Jakarta Pusat.

Tanggal 5 September 2011, resmilah kedai itu dibuka. Namanya pun diambil dari nama jalan di tempat itu yang diberi sentuhan “lawasan”. Maka, jadilah C menjadi Tj, dan di Jalan Cikini muncullah “Kedai Tjikini”.

Ia ingin menghidupkan kembali sepenggal ujung Jalan Cikini, yang ketika itu banyak rukonya tutup, banyak gedungnya berpenampilan gelap dan muram.

Tahun-tahun pertama adalah tahun tersulit. Kedai belum punya nama, apalagi pelanggan tetap. Biaya terus berjalan, waktu terus berputar. Ditambah lagi, para pemiliknya sebagian besar masih berbentuk “kecebong” atau makhluk amfibi, manusia yang hidup di dua dunia: dunia kerja dan dunia wirausaha. 

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X