Wirausaha Kuliner: Pengalaman Kedai Tjikini dan Organic Fried Chicken

Kompas.com - 17/06/2016, 08:59 WIB
Salah satu suguhan makanan di Kedai Tjikini dokumen pribadiSalah satu suguhan makanan di Kedai Tjikini
EditorWisnubrata

Bahkan tak cuma itu. Saking klasiknya penataan kedai itu, banyak yang mengira itu bukan kedai makan. Ada orang asing yang datang ke tempat itu dan menduga bahwa toko ini berjualan barang-barang dan furnitur antik.

Pada awalnya, sembari bekerja, sepulang dari kantor Dehawe masih ikut memasak di dapur, sementara manajemen keuangan dikelola oleh Enrico dan Heni. Itu berlangsung sejak kedai pertama kali buka sampai dengan ketika ia benar-benar punya waktu penuh untuk mengurus kedai.

“Ketika saya di-PHK, November 2014, saya berkonsentrasi penuh mengurusi kedai. Tidak ada cara lain selain terjun langsung. Dalam hal ini, saya menerapkan pengalaman dalam pekerjaan jurnalistik. Ketika kita ditugasi mengelola desk tertentu, kita harus mengenal beat itu, mengenal lapangan dan narasumber kunci,” akunya.

Maka, ia pun mencoba mengenal lapangan restoran/kedai dengan pertama-tama mengetahui bahan baku; artinya terjun ke pasar. Ia hafal di sudut mana, stok blewah di Pasar Kebayoran Lama disimpan; ikan pindang kembung medan di Pasar Senen, ikan bandeng besar di Pasar Petak Sembilan, kue-kue tradisional di Gang Banten, Pasar Mester Jatinegara, sayur sawi asin di Pasar Petojo, dan seterusnya.

“Saya keliling pasar. Dari sini juga ada ide-ide baru membuat menu. pada gilirannya, pada waktunya, kami juga berkeliling melihat para artisan dalam coffee roasting untuk mendapatkan kopi yang kami anggap paling sesuai untuk Kedai Tjikini,” imbuhnya.

Pengalamannya bekerja di bagian training dan SDM di kantor lamanya membuatnya percaya bahwa unsur utama dalam bisnisnya adalah SDM. Mereka harus mendapatkan pembekalan sebelum bekerja, memperoleh feedback untuk maju.

Di tahun kelimanya, karyawan Kedai Tjikini kini berjumlah 18 orang. Tak terbayangkan di kepala Dehawe bahwa suatu saat ia akan punya karyawan sebanyak itu. Kedai yang buka dari pukul 08.30 hingga 23.00 itu, kini sudah memiliki pelanggan tetap.

Seringkali juga tempat tersebut direservasi untuk acara-acara tertentu seperti lokakarya, seminar, gathering, media briefing, dan sebagainya.

“Dulu, pada umumnya yang datang adalah teman atau kenalan dekat kami. Tetapi lambat laun, yang datang lebih luas dari itu. Umumnya adalah para pekerja kantor, pekerja kreatif, pengajar, mahasiswa, keluarga. Rata-rata berusia dari 18 tahun sampai 45 tahun,” jelasnya.

Menu andalan Kedai Tjikini dan menjadi favorit pelanggan antara lain Lontong Cap Gomeh, Nasi Goreng Belacan, Pindang Iga, dan Nasi Lodeh. Menu lainnya yang tak kalah seru adalah Nasi Uduk, Gado-gado Siram, Nasi Rawon, Pindang Bandeng, dan Ikan Kembung Tauco.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X