Asia Tak Perlu Cemaskan "Brexit"

Kompas.com - 15/07/2016, 12:00 WIB
Hasil akhir referendum Uni Eropa (UE) di Inggris, Kamis (23/6/2016), menunjukkan, 51,9 persen pemilih menghendaki negara itu keluar dari blok UE, setelah 43 tahun bergabung. DPA/A DelvinHasil akhir referendum Uni Eropa (UE) di Inggris, Kamis (23/6/2016), menunjukkan, 51,9 persen pemilih menghendaki negara itu keluar dari blok UE, setelah 43 tahun bergabung.
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Rakyat Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa dalam referendum 23 Juni 2016 lalu, sebuah peristiwa yang dikenal luas dengan istilah Brexit. 51,9 persen warga memilih keluar dan 481, persen memilih tetap bergabung.

Banyak pihak yang mencemaskan dampak Brexit akan menjalar ke Asia. Bagaimana tidak, Brexit menyebabkan nilai tukar poundsterling anjlok dan dollar AS sedikit tergelincir.

Chief Economist DBS Group Research David Carbon menjelaskan, dalam jangka pendek dampak Brexit memang terasa dalam pasar uang dan pasar modal. Ini terlihat dari bursa saham Asia melakukan aksi jual pada saat hasil referendum diumumkan. 

Namun demikian, dari perspektif ekonomi dampak ini tidak terlalu mengkhawatirkan terutama bagi Asia. Meski pertumbuhan Asia melambat, Asia masih akan tumbuh sekitar 1 triliun dollar AS setiap tahun. Menurut Carbon, angka tersebut setara dengan tingkat produk domestik bruto (PDB) Jerman setiap 3,2 tahun.

Carbon memprediksi, dalam kurun lima tahun dari sekarang, Asia akan membentuk Jerman baru setiap 2,8 tahun. 

“Jadi jangan khawatir soal Brexit jika Anda tinggal di Asia,” ujar Carbon dalam laporannya yang diterima, Jumat (15/7/2016).

Carbon menilai, besarnya dampak yang ditimbulkan dari Brexit tergantung dari berapa banyak negara yang bisa jadi akan menyusul langkah Inggris keluar dari Uni Eropa. 

Efek domino dapat timbul ketika Brexit menjadi inspirasi bagi negara Uni Eropa lain seperti Belanda, Austria, Swedia, dan Prancis untuk menggelar referendum serupa. 

"Perlu juga dicatat bahwa Skotlandia telah memutuskan untuk tetap menjadi bagian dari ekonomi Uni Eropa. Hal ini membuka kembali kemungkinan Skotlandia akan meninggalkan Inggris untuk bisa tetap menjadi anggota Uni Eropa," terangnya.

Kompas TV Dampak Brexit, Bank Italia Alami Kredit Macet

 

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X