Menperin Ajak Presiden Tajikistan Kerja Sama Bidang Industri

Kompas.com - 01/08/2016, 15:51 WIB
Pramdia Arhando Julianto Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto bersalaman dengan Presiden Republik Tajikistan H.E. Mr. Emomali Rahmon di ruang VVIP Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 31 Juli 2016

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengharapkan kunjungan Presiden Tajikistan Emomali Rahmon di Indonesia dapat menguatkan hubungan bilateral sekaligus menjalin kerja sama ekonomi, khususnya sektor industri.

Kunjungan kenegaraan Presiden Emomali di Indonesia ini dalam rangka menghadiri pertemuan World Islamic Economic Forum (WIEF) ke-12 pada 2-4 Agustus 2016 di Jakarta.

"Selama ini, kedua negara belum ada kerja sama investasi di sektor industri. Untuk itu, kedatangan Presiden Emomali ini menjadi kesempatan emas untuk menawarkan kerja sama industri yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian kedua negara," ujar Menperin dalam keterangan resminya usai mendampingi Presiden Joko Widodo melakukan Bilateral Meeting dengan Presiden Emomali di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (1/8/2016).

Airlangga menyampaikan, dalam upaya menjalin kerja sama di sektor industri, Menperin mengusulkan beberapa hal, yaitu mengaktifkan komisi bersama untuk kerja sama bilateral sebagai sarana untuk mendiskusikan lebih lanjut kemungkinan kerja sama di bidang industri yang lebih erat di antara kedua negara.

Usul lainnya berupa memfasilitasi pelaksanaan misi perdagangan guna penguatan kerja sama bisnis di antara kedua negara (B2B) untuk meningkatkan volume perdagangan, khususnya produk-produk industri.

"Membentuk kerja sama teknis di bidang industri potensial dengan tujuan untuk meningkatkan daya saing produk industri kedua negara," tuturnya.

Pada tahun 2015, ekspor Indonesia ke Tajikistan hanya sebesar 67.400 dollar AS, sementara impor sebesar 2.400 dollar AS.

Produk ekspor Indonesia adalah serat sintetis, aneka sabun, dan furnitur. Sementara itu, produk impor Indonesia hanya kulit mentah.

Menurut Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian Harjanto, hambatan utama perdagangan Indonesia-Tajikistan adalah masalah transportasi.

Tajikistan tidak memiliki pelabuhan laut karena merupakan negara landlocked (negara yang tidak memiliki laut).

"Barang-barang yang diekspor ke Tajikistan harus memasuki Pelabuhan Bandar Abbas di Iran, yang kemudian diangkut menggunakan truk atau kereta api dengan masa perjalanan mencapai satu bulan," ungkapnya.

"Adanya embargo ekonomi kepada Iran juga semakin mempersulit akses pasar ke Tajikistan," ujarnya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorM Fajar Marta
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X