Industri Peternakan Ayam Maju tetapi Peternak Rakyat Makin Terjepit

Kompas.com - 04/08/2016, 17:22 WIB
Peternak mengecek pakan ternak ayam broiler di Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (25/2/2016). Sepekan terakhir, harga ayam broiler hidup di tingkat peternak di Cirebon berangsur anjlok dari Rp 18.000 per kilogram menjadi Rp 9.000 per kilogram. KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRIPeternak mengecek pakan ternak ayam broiler di Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (25/2/2016). Sepekan terakhir, harga ayam broiler hidup di tingkat peternak di Cirebon berangsur anjlok dari Rp 18.000 per kilogram menjadi Rp 9.000 per kilogram.
|
EditorM Fajar Marta

JAKARTA, KOMPAS.com — Persoalan peternakan unggas di Indonesia tidak terlepas dari berkembang pesatnya pertumbuhan industri peternakan itu sendiri.

Dari yang dahulunya industri peternakan unggas dikelola oleh peternak rakyat, hingga kini industri peternakan unggas sudah dikuasai oleh konglomerasi.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian Surachman Suwandi mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan industri peternakan rakyat terpuruk.

"Peternak rakyat atau peternak kecil terpuruk karena skala ekonominya kecil. Selain itu, industrinya tidak terintegrasi," ujar Surachman dalam diskusi harian Kompas dengan Kementerian Pertanian di Jakarta, Kamis (4/7/2016).

Surachman menambahkan, secara umum saat ini industri unggas jauh lebih maju dibandingkan dengan komoditas lainnya dan memberikan kontribusi terbesar terhadap pemenuhan kebutuhan protein hewani.

"Faktanya ayam ras telah menimbulkan revolusi menu orang Indonesia dari daging merah ke daging putih, yaitu dari 55 persen konsumsi daging sapi atau kerbau turun menjadi 17 persen dan konsumsi daging unggas baik ayam ras maupun buras naik dari 15 persen menjadi 67 persen selama kurun waktu 50 tahun terakhir," tambah Surachman.

Tingginya permintaan komoditas ayam akhirnya mendorong perusahaan untuk terjun dalam bisnis peternakan unggas.

"Pesatnya laju pertumbuhan komoditas ayam khususnya ayam ras secara tidak langsung telah mendorong munculnya konglomerasi-konglomerasi. Namun, tumbuhnya konglomerasi yang tidak terintegrasi dengan peternak rakyat bisa menjadi implikasi negatif," ujar Surachman.

Surachman menegaskan, pihaknya tidak akan tinggal diam terkait persoalan tersebut.

"Kalau terus dibiarkan, niscaya yang kecil akan tetap kecil dan yang besar akan makin besar," kata Surachman.

Menurut dia, saat ini sekitar 80 persen pangsa pasar industri unggas dikuasai konglomerasi, sementara pangsa pasar peternak mandiri hanya 20 persen.

Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Indonesia Hartono mempertanyakan arah kebijakan pemerintah terkait persoalan unggas, apakah akan mendukung peternak rakyat atau konglomerasi.

"Pada kondisi hari ini, kami melihat bahwa pemerintah belum berpihak kepada peternak rakyat," pungkasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X