Presiden: Pemerintah Lakukan Lompatan Paradigma Pembangunan

Kompas.com - 16/08/2016, 16:40 WIB
KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Presiden Joko Widodo menghadiri sidang tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 2016 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/8/2016). Dalam sidang tahunan ini Presiden membacakan pidato kenegaraan.

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Joko Widodo mengatakan, RAPBN 2017 disusun di atas fondasi pencapaian Indonesia dan perkembangan faktual pada tahun anggaran 2015-2016.

Pemerintah mengklaim telah membangun fondasi dengan melakukan transformasi fundamental perekonomian nasional sekaligus melakukan lompatan paradigma pembangunan.

"Paradigma pembangunan yang bersifat konsumtif, kita ubah menjadi produktif," ujar Presiden saat membacakan RAPBN dan Nota Keuangan 2017 dalam Sidang Paripurna DPR, Jakarta, Selasa (16/8/2016).

Menurut ia, pemerintah sudah mengambil langkah-langkah mengubah paradigma tersebut dengan menghapus subsidi BBM dan mengalokasikan anggaran yang lebih diprioritaskan pada upaya pengentasan masyarakat miskin, pengurangan ketimpangan, serta penciptaan lapangan kerja.

Bahkan, Presiden mengklaim meletakkan paradigma Indonesia-sentris dengan melakukan pembangunan tidak hanya di Jawa, tetapi di seluruh Tanah Air.

Selain itu, pemerintah juga mengaku sudah melakukan penghematan terhadap belanja operasional dan belanja barang.

Hasil penghematan itu dialokasikan untuk menjaga kesejahteraan rakyat dan memberikan stimulus kegiatan perekonomian.

Kini, tutur Jokowi, berbagai langkah pemerintah itu sudah mulai menuai hasil. Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2016 yang mencapai 5,18 persen menjadi acuannya. Pada triwulan pertama 2016, ekonomi hanya tumbuh 4,91 persen.

Terlebih lagi, indikator kesejahteraan sosial Indonesia meningkat dalam dua tahun terakhir. Data pada Maret 2016, kata Presiden, menunjukkan tingkat kemiskinan ditekan menjadi 10,86 persen.

Presiden juga mengungkapkan, tingkat ketimpangan (rasio Gini) berkurang menjadi 0,40 persen dan angka pengangguran turun jadi 5,5 persen.

Selain itu, ia menyebut Indeks Pembangunan Manusia terhadap sumber ekonomi, pendidikan, dan kesehatan terus mengalami kemajuan hingga mencapai angka 69,55 pada tahun 2015.

"Tanpa keberanian melakukan lompatan paradigma tersebut, kita tidak akan pernah bisa meletakkan fondasi pembangunan nasional yang kuat dan kokoh," ucapnya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorM Fajar Marta
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X