Regulasi Dinilai Jadi Kendala Bagi Perkembangan "Fintech"

Kompas.com - 29/08/2016, 17:10 WIB
Diskusi survei Fintech Indonesia oleh Deloitte di ICE BSD, Senin (28/9/2016) Sakina Rakhma Diah Setiawan/KOMPAS.comDiskusi survei Fintech Indonesia oleh Deloitte di ICE BSD, Senin (28/9/2016)
|
EditorM Fajar Marta

TANGERANG, KOMPAS.com - Sebuah survei teranyar tentang layanan keuangan berbasis teknologi atau "fintech" menemukan bahwa perusahaan fintech mengharapkan adanya lebih banyak kerja sama dan kolaborasi dengan regulator.

Survei bertajuk Survei Fintech 2016 ini dilakukan oleh perusahaan konsultasi dan audit internasional Deloitte.

“Berkembangnya penggunaan teknologi di sektor keuangan membuktikan bahwa pasar Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dan ini perlu menjadi salah satu agenda penting pemerintah, sebagaimana ditunjukkan dalam laporan survei kami ini," kata Erik Koenen, Advisor untuk Industri Jasa Keuangan dari Deloitte dalam paparannya di ICE BSD, Senin (29/8/2016).

Koenen menjelaskan, mayoritas perusahaan fintech menganggap adaptasi regulasi terhadap perkembangan pesat fintech saat ini masih tergolong lambat dan belum jelas.

Oleh sebab itu, mempererat kerja sama dengan pemerintah menjadi hal yang sangat penting bagi perusahaan fintech.

Ada lima area fintech yang memiliki kebutuhan paling tinggi dalam pengembangan regulasi, yakni payment gateway sebesar 60 persen, e-money atau e-wallet sebesar 58 persen, mekanisme Know Your client (KYC) sebesar 57 persen, peer to peer (P2P) lending sebesar 57 persen, dan digital signature sebesar 54 persen.

Survei FinTech Indonesia 2016 yang dilakukan oleh Deloitte ini berupaya mengungkap tantangan utama yang dihadapi oleh pemain-pemain fintech di Indonesia saat ini dan mencari cara untuk mengatasinya.

Lebih dari 70 perusahaan fintech membagi pengalaman, keahlian, dan pemikiran mereka, dengan mengikuti survei ini.

Metodologinya terdiri dari tiga aktivitas, antara lain survei komprehensif untuk beberapa CEO terpilih dari perusahaan fintech, pengumpulan respons, dan analisa dan validasi kesimpulan oleh tim konsultan bisnis.

"Melalui survei ini, kami ingin menyoroti bagaimana kolaborasi di antara pemain fintech dan regulator dapat semakin meningkatkan akses masyarakat Indonesia terhadap layanan-layanan keuangan, khususnya dengan memanfaatkan teknologi," ujar Koenen.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X