Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BEI Ingin Membangunkan Saham "Tidur"

Kompas.com - 14/09/2016, 08:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan kebijakan penghapusan batas bawah harga Rp 50 per saham berlaku di akhir 2016.

Kebijakan itu diharapkan bisa membangunkan saham yang selama ini tidak aktif diperdagangkan alias saham tidur.

"Selama ini seolah kami meninabobokkan saham yang harganya sudah di bawah Rp 50. Ada saham-saham tidur yang sebenarnya sejauh ini tertolong dengan harga saham minimal Rp 50 per unit," ungkap Hamdi Hassyarbaini, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Selasa (13/9/2016).

Sejatinya, pelaku pasar ingin harga yang sesungguhnya atau fair value atas suatu saham. Dengan melepas batas harga, maka investor akan tahu berapa harga dan kondisi sesungguhnya dari sebuah saham.

"Standar dari transaksi adalah teratur dan wajar. Teratur artinya tidak ada upaya mengatur aktivitas atau harga di luar dari seharusnya. Wajar artinya pembentukan harga berasal dari tawar menawar," imbuh Hamdi.

Perlu diketahui, saat ini ada 534 saham yang tercatat di BEI. Menurut Hamdi, saham yang tidur tidak sampai setengahnya dari jumlah tersebut. "Saham yang tidur di bawah 50 persen," ujar dia.

BEI ingin mendorong saham untuk lebih aktif ditransaksikan. Lantas, apakah dengan kebijakan ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan turun?

Mengacu kajian yang tengah dilakukan BEI, langkah ini tidak berpengaruh signifikan terhadap indeks. "Tetapi memang harus ada kajian yang mendalam lagi kira-kira pengaruh kepada indeks berapa persen. Berdasarkan kajian kami sementara, so far masih terkendali," kata Hamdi.

Yang pasti, dengan kebijakan ini, BEI ingin semua saham yang tercatat di bursa bisa aktif sehingga investor memiliki banyak pilihan.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai, penghapusan batas bawah harga saham berpotensi menekan IHSG, tetapi tidak akan drastis. Pasalnya, selama ini perhitungannya adalah jumlah saham beredar dikalikan dengan harga pasar.

"Kalau batas bawah Rp 50 diubah, pasti indeks ada penurunan sedikit tapi tidak signifikan karena saham-saham di bawah Rp 50 ini market cap-nya kecil," tutur dia.

Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo pun menilai, sesungguhnya bila batas bawah masih diterapkan, malah lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Sebab, ada beberapa saham tidur yang masih melakukan aksi korporasi dengan jaminan saham, tetapi tidak memperbaiki diri.

"Lebih baik aturan tersebut dihapuskan saja daripada memakan banyak korban lagi," ungkap Satrio. (Ghina Ghaliya Quddus)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

J Trust Bank Hadirkan Program Tabungan sekaligus Penanaman Mangrove

J Trust Bank Hadirkan Program Tabungan sekaligus Penanaman Mangrove

Whats New
Pasar Perbaikan Pesawat di RI Besar, FL Technics Buka Fasilitas MRO di Bandara Ngurah Rai dan Raih Sertifikat FAA

Pasar Perbaikan Pesawat di RI Besar, FL Technics Buka Fasilitas MRO di Bandara Ngurah Rai dan Raih Sertifikat FAA

Whats New
UNESCO Tetapkan Semen Padang Sebagai Warisan Kolektif Asia Pasifik

UNESCO Tetapkan Semen Padang Sebagai Warisan Kolektif Asia Pasifik

Whats New
Perempuan Duduki 60 Persen Posisi Manajemen di Prudential Indonesia

Perempuan Duduki 60 Persen Posisi Manajemen di Prudential Indonesia

Work Smart
Awasi Bus Pariwisata Tak Berizin, Kemenhub Perlu Kerja Sama dengan Instansi Lain

Awasi Bus Pariwisata Tak Berizin, Kemenhub Perlu Kerja Sama dengan Instansi Lain

Whats New
Ada Modus Penipuan Mengatasnamakan Bukalapak, Pengguna dan Masyarakat Diminta Waspada

Ada Modus Penipuan Mengatasnamakan Bukalapak, Pengguna dan Masyarakat Diminta Waspada

Whats New
Tumbuh 12,4 Persen, Kredit Perbankan Tembus Rp 7.245 Triliun pada Kuartal I 2024

Tumbuh 12,4 Persen, Kredit Perbankan Tembus Rp 7.245 Triliun pada Kuartal I 2024

Whats New
Waspada Modus Penipuan Keuangan Baru yang Mengincar Masyarakat pada 2024

Waspada Modus Penipuan Keuangan Baru yang Mengincar Masyarakat pada 2024

Whats New
Menkominfo: Jurnalistik Harus Investigasi, Masa Harus Dilarang...?

Menkominfo: Jurnalistik Harus Investigasi, Masa Harus Dilarang...?

Whats New
Maskapai Emirates Buka Lowongan Kerja di Jakarta, Lulusan SMA Bisa Daftar

Maskapai Emirates Buka Lowongan Kerja di Jakarta, Lulusan SMA Bisa Daftar

Whats New
Didukung Konsumsi yang Tinggi, Prospek Bisnis Distribusi Beras Dinilai Makin Cerah

Didukung Konsumsi yang Tinggi, Prospek Bisnis Distribusi Beras Dinilai Makin Cerah

Whats New
PGN Lunasi Utang Obligasi Dollar AS Pada 2024

PGN Lunasi Utang Obligasi Dollar AS Pada 2024

Whats New
Sandiaga: Investasi di Sektor Parekraf Capai Rp 11 Triliun di Kuartal I 2024

Sandiaga: Investasi di Sektor Parekraf Capai Rp 11 Triliun di Kuartal I 2024

Whats New
Kelas 1,2,3 Diganti Jadi KRIS, Ini Penjelasan Dirut BPJS Kesehatan

Kelas 1,2,3 Diganti Jadi KRIS, Ini Penjelasan Dirut BPJS Kesehatan

Whats New
Harga Bahan Pokok Selasa 14 Mei 2024 Mayoritas Naik

Harga Bahan Pokok Selasa 14 Mei 2024 Mayoritas Naik

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com