Kebijakan Kapal Asing, Alat Tangkap Cantrang dan "Transhipment" Sudah Tidak Bisa Ditawar Lagi

Kompas.com - 20/09/2016, 15:49 WIB
Kapal asing Fishing Vessel (FV) KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHOKapal asing Fishing Vessel (FV) "Viking" dikaramkan dan diledakkan bagian lambungnya di Pantai Barat, Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Senin (14/3/2016). Kapal FV Viking yang juga merupakan buronan Interpol ini tertangkap di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada Februari lalu. Peledakan ini menjadi bagian dari kampanye perlawanan penangkapan ikan ilegal oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan.
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Zulficar M Mochtar, menegaskan bahwa kebijakan mengenai kapal asing, cantrang, dan transhipment sudah final di KKP dan tidak bisa diusik pihak lain.

Dia mengatakan hal tersebut, menindaklanjuti adanya pertemuan antara  Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dengan nelayan dan pengusaha perikanan, Senin kemarin (19/9/2016).

Zulficar mengatakan, salah satu hal yang diminta asosiasi nelayan ke Luhut adalah soal diperbolehkannya alat tangkap cantrang beroperasi. Dia menegaskan hal itu sudah tidak bisa ditawar lagi.

Hal yang sama berlaku untuk kegiatan alih muatan di tengah laut atau transhipment. “Kalau urusan kapal asing, cantrang, dan transhipment, itu sudah final di KKP,” ucap Kepala Balitbang-KP itu kepada Kompas.com, Senin malam.  

Lebih lanjut dia menjelaskan, kapal asing telah menghancurkan sendi-sendi perikanan nasional selama berpuluh-puluh tahun.

Menurut dia, alat-alat penangkap ikan tak ramah lingkungan, cantrang dan segala bentuk trawl sudah lama dilarang.

“Transhipment adalah modus utama IUU Fishing. Dan IUU Fishing ini sumber masalah. Jadi, tidak boleh lagi,” ucap Zulficar.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pihaknya tengah mempelajari masalah-masalah di sektor perikanan, dan mencari solusi jalan keluar.

Salah satu caranya, Luhut mendengar langsung masukan dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk asosiasi nelayan.

Hal tersebut ia sampaikan menjawab pertanyaan tentang masalah-masalah perikanan setelah pertemuannya dengan nelayan dan pengusaha perikanan, kemarin Senin (19/9/2016).

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menekan Penyebaran Covid-19 Melalui Transportasi Udara

Menekan Penyebaran Covid-19 Melalui Transportasi Udara

Whats New
Balas Donald Trump, China Stop Impor Daging Babi Asal AS

Balas Donald Trump, China Stop Impor Daging Babi Asal AS

Whats New
PT LRT Jakarta Buka Lowongan Kerja, Cek Posisi yang Tersedia

PT LRT Jakarta Buka Lowongan Kerja, Cek Posisi yang Tersedia

Work Smart
Pemerintah Evaluasi Kartu Prakerja, Bagaimana Nasib Pendaftaran Gelombang 4?

Pemerintah Evaluasi Kartu Prakerja, Bagaimana Nasib Pendaftaran Gelombang 4?

Whats New
Batal Diakuisisi Hary Tanoe, First Media Didekati Investor Baru

Batal Diakuisisi Hary Tanoe, First Media Didekati Investor Baru

Whats New
Beli Token Listrik Kodenya Tak Muncul, Bagaimana Nasib Dana Pelanggan?

Beli Token Listrik Kodenya Tak Muncul, Bagaimana Nasib Dana Pelanggan?

Whats New
[POPULER MONEY] Lion Air Terbang Lagi | Nasib yang Belum Ikut Sensus Penduduk Online

[POPULER MONEY] Lion Air Terbang Lagi | Nasib yang Belum Ikut Sensus Penduduk Online

Whats New
New Normal, Penumpang Harus Datang 4 Jam Sebelum Terbang

New Normal, Penumpang Harus Datang 4 Jam Sebelum Terbang

Whats New
Sempat Gangguan, Pelanggan Listrik Prabayar Sudah Bisa Akses Token

Sempat Gangguan, Pelanggan Listrik Prabayar Sudah Bisa Akses Token

Whats New
Pengusaha Hotel dan Restoran Butuh Modal Kerja Rp 21,3 Triliun

Pengusaha Hotel dan Restoran Butuh Modal Kerja Rp 21,3 Triliun

Whats New
New Normal, Begini Prosedur Operasional Kantor Cabang BTN

New Normal, Begini Prosedur Operasional Kantor Cabang BTN

Whats New
Beredar Kabar Sejumlah Pilot Di-PHK, Ini Penjelasan Garuda Indonesia

Beredar Kabar Sejumlah Pilot Di-PHK, Ini Penjelasan Garuda Indonesia

Whats New
Anggota DPR Ini Kritisi PEN karena Ada Alokasi yang Cukup Menggelikan...

Anggota DPR Ini Kritisi PEN karena Ada Alokasi yang Cukup Menggelikan...

Whats New
Menaker: Tenaga Medis Hingga Relawan Covid -19 Terlindungi Program Jaminan Kecelakaan Kerja

Menaker: Tenaga Medis Hingga Relawan Covid -19 Terlindungi Program Jaminan Kecelakaan Kerja

Whats New
Ada Tambahan Rp 1,2 Triliun, Nelayan Bakal Dapat Bantuan Rp 600.000 Tiap Bulan

Ada Tambahan Rp 1,2 Triliun, Nelayan Bakal Dapat Bantuan Rp 600.000 Tiap Bulan

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads X