Kombinasi Sistem Zonasi dan Impor Bisa Turunkan Harga Gas

Kompas.com - 11/10/2016, 22:22 WIB
Menteri Koorinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/9/2016) KOMPAS.com/Nabilla TashandraMenteri Koorinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/9/2016)
|
EditorM Fajar Marta

JAKARTA, KOMPAS.com – Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah memiliki opsi langkah menurunkan harga gas untuk industri.

Salah satunya yakni dengan melakukan zonasi distribusi gas. “Jadi gas di Indonesia timur kita kasih untuk industri di Indonesia timur. Gas yang di Indonesia tengah kita fokus ke Indonesia tengah. Supaya mengurangi biaya transportasinya,” kata Luhut di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (11/10/2016).

Seiring dengan pengaturan zonasi itu, pemerintah juga tengah menyiapkan aturan untuk impor gas dari luar negeri.

Luhut mencontohkan, harga gas di wilayah barat Indonesia seperti di Sumatera saat ini masih mahal, mencapai 13 dollar AS per MMBTU.

Mahalnya harga gas, salah satunya akibat biaya transportasi LNG atau gas alam cair yang berasal dari timur Indonesia.

Atas dasar itu, Luhut bilang, pemerintah melihat ada kemungkinan impor gas untuk menggantikan pasokan dari timur.

“Kalau lebih murah mengimpor untuk Medan, ya impor saja. Nanti regasifikasinya di Lhokseumawe, dialirkan ke Medan. Sehingga di Medan, gas bisa di kisaran 7 dollar AS per MMBTU, dibandingkan sekarang yang 13 dollar AS,” kata Menteri Koordinator Kemaritiman itu.

Sementara itu Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja mengatakan, opsi ini masih dikaji, apalagi menyangkut suplai gas dari luar negeri.

Wiratmaja mengatakan, saat ini saja gas domestik sudah kelebihan-pasokan (over-supply).

Ditemui usai rapat, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menegaskan, pemerintah belum mengambil keputusan langkah apa yang akan diambil untuk memenuhi keinginan Presiden Joko Widodo yakni gas murah untuk industri.

Menurut mantan Gubernur Bank Indonesia itu, masalah harga gas ini sangat kompleks. Darmin pun tidak setuju apabila dikatakan opsi impor gas bakal membuat harga gas untuk industri lebih murah. “Enggak. Belum tentu,” ucap Darmin.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.