Krakatau Steel Harapkan Harga Gas 3 Dollar AS Per MMBTU

Kompas.com - 28/10/2016, 17:25 WIB
Pegawai Krakatau Steel memantau pembuatan lembaran baja panas di Cilegon, Banten, Jumat (24/4/2015). Cilegon sebagai kota industri banyak menarik investor berkat kelengkapan infrastruktur, seperti jalan tol, pelabuhan, dan stasiun kereta. Kota itu dikenal sebagai penghasil baja. KOMPAS/DWI BAYU RADIUSPegawai Krakatau Steel memantau pembuatan lembaran baja panas di Cilegon, Banten, Jumat (24/4/2015). Cilegon sebagai kota industri banyak menarik investor berkat kelengkapan infrastruktur, seperti jalan tol, pelabuhan, dan stasiun kereta. Kota itu dikenal sebagai penghasil baja.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

CILEGON, KOMPAS.com – Produsen baja PT Krakatau Steel Tbk berharap harga gas turun menjadi 3 dollar AS per juta metrik british thermal unit atau MMBTU.

Harga itu akan menggerakkan pabrik hulu Krakatau Steel, serta bisa menghemat devisa hingga 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 13 triliun per tahun.

Menurut Direktur Utama Krakatau Steel Sukandar, devisa itu bisa dihemat dengan tak mengimpor pelat (slab) dan batangan (billet). Jika harga gas menjadi 3 dollar AS per MMBTU, pabrik hulu Krakatau Steel dapat dioperasikan untuk menghasilkan berbagai produk baja itu.

Pabrik itu bisa memproduksi 2,5 juta ton slab dan billet per tahun. Jumlah itu terdiri dari 2 juta ton pelat baja dan 500.000 ton baja batangan. Harga produk itu rata-rata sekitar 400 dollar AS atau Rp 5,2 juta per ton. Namun, pabrik hulu Krakatau Steel kini berhenti beroperasi karena harga gas yang sangat tinggi.

Sebelumnya, pemerintah berencana merumuskan harga baru gas dengan pengkajian hingga dua bulan ke depan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta, awal Oktober 2016, menyatakan, harga baru gas untuk industri akan diberlakukan mulai tahun 2017.

“Kami berharap bisa menjalankan pabrik hulu agar bisa menghemat devisa yang sangat besar. Perlu keberpihakan kepada industri baja,” kata Sukandar.

Harga gas di negara lain jauh lebih rendah. Di Malaysia misalnya, harga gas hanya 4 dollar AS per MMBTU dan di Amerika Serikat 3 dollar AS per MMBTU.

Sementara, Krakatau Steel harus membayar gas 7,3-9,5 dollar AS per MMBTU yang dianggap sangat memberatkan. Bagian gas dalam biaya produksi baja mencapai 51 persen. Jika pabrik hulu dipaksakan beroperasi, Krakatau Steel tak akan mendapatkan keuntungan.

Sementara itu, pabrik hilir Krakatau Steel masih berjalan. Produk yang dihasilkan pabrik itu antara lain besi siku, kawat baja, dan baja lembaran canai panas.

Sukandar mengatakan, pihaknya tengah berupaya untuk meningkatkan produksi baja. Tanpa harga gas yang terjangkau, rencana itu sulit diwujudkan.

“Krakatau Steel membutuhkan gas dalam menghasilkan produk. Kami sangat berharap pemerintah bisa menurunkan harga gas,” katanya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X