Arti Gas Bumi bagi Usaha Rumahan di Kampung Kue Surabaya

Kompas.com - 31/10/2016, 23:02 WIB
Adonan jenang jagung selesai dimasak dan proses pendinginan. Kompas.com mengintip proses pembuatan jenang jagung Surabaya di Kampung Kue, Rungkut Lor, Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (22/8/2016) KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZESAdonan jenang jagung selesai dimasak dan proses pendinginan. Kompas.com mengintip proses pembuatan jenang jagung Surabaya di Kampung Kue, Rungkut Lor, Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (22/8/2016)
|
EditorPalupi Annisa Auliani


SURABAYA, KOMPAS.com-
Pemanfaatan gas bumi yang dikelola Perusahaan Gas Negara (PGN) tidak hanya dinikmati industri besar. Penggunaannya pun makin menyebar di rumah tangga, termasuk usaha rakyat berbasis perumahan.

“Kami sudah memakai gas bumi sejak 2010,” ujar pemilik usaha kue Die Va Cake & Cookies, Elfa Susanti ditemui Kompas.com, Selasa (12/4/2016).

Usaha Elfa merupakan salah satu di antara puluhan rumah tangga pembuat kue di Rungkut Lor, Kota Surabaya, Jawa Timur. Permukiman ini bahkan sudah mendapat label sebagai salah satu Kampung Kue di kota ini.

Bersama Elfa, ada sekitar 40 keluarga yang punya usaha sejenis. Satu jenis kue bikinan keluarga Elfa yang tak banyak ada adalah jenang jagung.

Sama dengan Elfa, hampir sebagian besar dapur-dapur di Kampung Kue telah menggunakan gas bumi, yang belakangan ditangani oleh PGN. Dengan bahan bakar tersebut, Elfa mengaku dapat menekan ongkos produksi.

Ketika masih menggunakan gas dalam kemasan tabung, Elfa mengaku butuh satu sampai dua tabung ukuran 3 kilogram per hari untuk produksi kue. "Ongkos rata-rata per hari Rp 25.000. Kalau sebulan sudah Rp 600.000,” hitungnya.

Sejak memakai gas bumi melalui jaringan PGN, Elfa mengaku tagihan per bulan hanya berkisar Rp 250.000 sampai Rp 300.000. “Bisa menghemat hingga 50 persen,” ungkap dia.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZES Nurul Fathana (61 tahun), mengaduk adonan bahan jenang jagung di dapurnya, di Kampung Kue, Rungkut Lor, Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (22/8/2016)

Bagi usaha seperti milik Efa dan para tetangganya, penghematan sebanyak itu bukan angka yang kecil. Terlebih lagi, harga jual kue mereka ke pedagang pasar atau pedagang kulakan relatif murah, di kisaran Rp 1.000 - Rp 3.000 per potong.

Selain menghemat ongkos produksi, Elfa mengaku penggunaan gas bumi lewat pipa ini lebih praktis. Sederhana saja, tak perlu ada cerita kehabisan gas pada tengah malam di tengah proses produksi, seperti risiko bila memakai gas dalam tabung.

Perhitungan tersebut penting pula bagi usaha Elfa. Proses produksi kue di rumahnya baru dimulai pada pukul 21.00 WIB. Repot, kata Elfa, bila sampai kue yang sedang dipanggang di oven tak terbakar sempurna hanya gara-gara pembakaran terhenti karena aliran gas terhenti.

Selain praktis, Elfa juga mengaku tidak was-was karena takut terjadi kebocoran. “Pemakaiannya mudah, kalau tidak sedang digunakan tinggal tutup keran,” imbuh dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X