Trump Jadi Presiden AS, Kepala Bappenas Khawatir Sinyal Perang Meningkat

Kompas.com - 12/11/2016, 16:20 WIB
Materi kampanye Donald Trump. KARIM RASLANMateri kampanye Donald Trump.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perencanaan Pembangunan, Bambang Brodjonegoro mengatakan, seringnya negara adidaya seperti Amerika Serikat terlibat dalam peperangan di berbagai belahan dunia, hal tersebut semata-mata untuk meningkatkan pasar industri senjatanya.

"Amerika hobi perang, itu semata-mata bisnis," ujar Bambang saat menghadiri acara paguyuban Mas TRIP di gedung Perbanas, Jakarta, Sabtu (12/11/2016).

Menurut mantan Menteri Keuangan ini, Amerika Serikat sangat gencar ikut dalam peperangan, karena Amerika Serikat menginginkan industri senjatanya laku di pasar dunia.

"Kalau negara menginginkan perang itu bisa dipastikan agar industri senjatanya laku," ucap Bambang.

Selain itu, Bambang pun memiliki kekhawatiran lain dengan terpilihnya Donald Trump sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat jika dilihat dari isi kampanye dan latar belakangnya.

"Dengan kemenangan Trump kemarin, kok ada kecenderungan ingin perangnya tadi ya," tutur Bambang.

Seperti diketahui, selama beberapa bulan di masa kampanye calon presiden AS, Donald Trump seolah telah menjelma menjadi monster yang menakutkan bagi kelompok masyarakat tertentu di AS.

Berkali-kali, pengusaha kaya raya itu menyerukan niatnya untuk melakukan deportasi terhadap imigran gelap dan membatasi pengungsi Muslim di AS, jika dia terpilih menjadi presiden.

Retorika penuh kemarahan yang selalu didengungkan Trump tentang anti-imigran, dan dukungan kaum nasionalis kulit putih, sungguh menakutkan bagi warga imigran dan kaum minoritas di AS.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X