PLN Dapat Pendanaan dari Kanada dan Hongaria Rp 5,65 Triliun

Kompas.com - 05/12/2016, 09:44 WIB
Ilustrasi pembangkit listrik KOMPAS.com/Sakina Rakhma Diah SIlustrasi pembangkit listrik
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) terus berupaya mempercepat pembangunan pembangkit 35.000 MW (megawatt) di sisi pembiayaan proyek.

Salah satu caranya dengan memanfaatkan pendanaan dari lembaga-lembaga keuangan melalui skema Export Credit Agency (ECA).

Pembangunan pembangkit listrik PLTG Mobile/Mobile Power Plant (MPP) total 500 megawatt (MW), yang merupakan bagian dari program 35.000 MW, mendapatkan pendanaan dari lembaga keuangan negara Kanada Export Development Canada (EDC) dan Hungarian Export-Import Bank (HEXIM). 

Dua negara itu memberikan pinjaman senilai 435 juta dollar AS atau setara dengan Rp 5,65 triliun (asumsi rupiah Rp 13.000 per dollar AS).

Direktur Keuangan PLN Sarwono mengatakan, pendanaan untuk proyek MPP 500 MW ini menggunakan skema Export Credit Agency (ECA) tanpa jaminan Pemerintah Indonesia dengan tingkat suku bunga kompetitif dan fixed sehingga meminimalisasi risiko fluktuasi tingkat suku bunga pinjaman yang sangat volatile.

"Pinjaman ini merupakan pinjaman jangka panjang dengan masa repayment selama 12 tahun," kata Sarwono dalam keterangan tertulisnya, Senin (5/12/2016).

Skema pendanaan ECA tanpa jaminan pemerintah ini merupakan salah satu alternatif pendanaan yang dilakukan PLN dalam portofolio pinjamannya selain yang dapat diperoleh dari pasar obligasi ataupun pendanaan dari lembaga perbankan serta lembaga kreditor baik bilateral maupun multilateral.

Lebih lanjut, Sarwono menyatakan, pendanaan dari kedua kreditor untuk program 35.000 MW merupakan bukti komitmen PLN dalam upaya menyelesaikan tugasnya menyediakan listrik bagi masyarakat yang saat ini di daerahnya masih mengalami kekurangan pasokan.

"Yang tidak kalah penting juga yaitu PLN sebagai agen pembangunan mendukung penyediaan pasokan listrik yang memadai untuk mendukung kebutuhan akan listrik sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi daerah serta nasional," jelas Sarwono.

Adapun pembangunan Mobile Power Plant itu sendiri tersebar di 8 lokasi, yaitu Lampung (4x25 MW), Pontianak (4x25 MW), Bangka (2x25 MW), Riau (3x25 MW), Belitung (25 MW), Ampenan (2x25 MW), Paya Pasir (3x25 MW), dan Nias 25 MW.

MPP 500 MW tersebut mulai pembangunan hingga pengoperasiannya dikelola oleh anak perusahaan PLN, yaitu PLN Batam. Pemilihan lokasi-lokasi tersebut didasarkan pada kondisi yang masih kekurangan pasokan listrik dan juga membutuhkan tambahan pasokan listrik dikarenakan tingginya pertumbuhan listrik di daerah tersebut.

"Sehingga, Mobile Power Plant dipilih untuk menjadi solusi cepat dan tepat," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.