Atasi Inflasi yang Meroket, Venezuela Terbitkan Uang Baru

Kompas.com - 05/12/2016, 10:37 WIB
Aksi unjuk rasa memprotes dan menuntut Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mundur pada 11 Mei 2016 di Caracas. AFP/Federico ParraAksi unjuk rasa memprotes dan menuntut Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mundur pada 11 Mei 2016 di Caracas.
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

CARACAS, KOMPAS.com - Venezuela menerbitkan uang baru dengan nilai yang jauh lebih tinggi. Hal ini merupakan upaya untuk menurunkan inflasi yang sudah meroket di negara itu, yang bahkan diprediksi bisa menembus ratusan persen.

Mengutip BBC, Senin (5/12/2016), selama ini satu tas ransel penuh berisi uang kerap harus dibawa dan digunakan untuk membayar tagihan di restoran.

Bank sentral Venezuela menyatakan, enam uang kertas misi baru memiliki denominasi beragam, mulai dari 500 sampai 2.000 bolivar, yang mulai beredar pada 15 Desember 2016 mendatang.

Saat ini, denominasi uang tertinggi yang beredar di Venezuela adalah 100 bolivar. Dalam beberapa bulan terakhir, nilai mata uang bolivar telah turun 60 persen terhadap dollar AS di pasar gelap.

"Ini akan membuat sistem pembayaran menjadi lebih efisien, memfasilitasi transaksi komersial dan meminimalkan biaya produksi, penggantian, dan transfer yang akan diterjemahkan menjadi manfaat bagi perbankan, perdagagangan, dan masyarakat luas secara umum," ungkap bank sentral dalam pernyataannya.

Pada Jumat (2/12/2016) lalu, sistem kartu kredit dan mesin ATM Venezula nonaktif. Akibatnya, dunia bisnis tidak bisa memproses transaksi dan terpaksa harus meminta transaksi dalam uang tunai atau menunda pembayaran.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyalahkan masalah tersebut pada serangan siber. Ia pun tetap bersikeras bahwa krisis ekonomi yang dialami Venezuela disebabkan oleh Amerika Serikat.

Pemerintah Venzuela terakhir kali merilis data inflasi pada Desember 2015 lalu yang mencapai 180 persen. Namun, Dana Moneter Internasional (IMF) mengestimasikan bahwa harga-harga barang di negara yang kaya akan cadangan minyak tersebut bakal menembus lebih dari 2.000 persen.

Ekonomi Venezuela telah terpukul keras akibat jatuhnya harga minyak, sumber utama pendapatan ekonomi negara itu. Venezuela juga memiliki kontrol yang amat ketat terhadap mata uang sejak 2003.



Sumber BBC News
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X