Menggarap Potensi Energi Listrik dari Sampah Perkotaan

Kompas.com - 13/12/2016, 15:00 WIB
Ilustrasi: Sampah menumpuk di tengah Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (26/7/2013). Sampah ini menumpuk karena truk sampah tidak datang tepat waktu akibat terjebak kemacetan di Bantar Gebang, Bekasi. KOMPAS.com/SONYA SUSWANTIIlustrasi: Sampah menumpuk di tengah Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (26/7/2013). Sampah ini menumpuk karena truk sampah tidak datang tepat waktu akibat terjebak kemacetan di Bantar Gebang, Bekasi.
EditorBambang Priyo Jatmiko

Di Indonesia, terdapat banyak sumber energi baru dan terbarukan yang digenjot penggunaannya sebagai alternatif dari sumber energi fosil yang diestimasi habis dalam 12 tahun-15 tahun mendatang.

Sumber energi fosil di Indonesia diperkirakan cepat habis sebab saat ini tingkat konsumsi minyak nasional sudah mencapai 1,6 juta barrel per hari (BPH). Adapun produksi minyak hanya 600.000 BPH-800.000 BPH. (Kompas.com, 5 Desember 2016))

Selain itu, pemerintah terus menggenjot alternatif energi dari penggunaan energi batu bara. Hal itu sebagai konsekuensi untuk mereduksi emisi gas rumah kaca (GRK), sesuai dengan ratifikasi perjanjian Paris Agreement yang diteken oleh DPR Oktober 2016 lalu.

Dalam ratifikasi tersebut, Indonesia harus mematuhi Nationally Determined Contribution (NDC) dengan target pemangkasan 29 persen emisi GRK hingga 2030.  

Sumber energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia ada banyak. Misal dari matahari (solar), panas bumi, angin, air, biomass hingga sampah.

Namun, dalam tulisan ini saya memilih pemanfaatan sampah menjadi energi, terutama sampah perkotaan, sebab masalah sampah sudah menjadi masalah yang menimbulkan dampak sosial dengan kerugian sosial, material, hingga kesehatan di masyarakat yang besar.

Misal kasus yang paling baru terjadi di Bandung, Jawa Barat. Wilayah ini pada Oktober 2016 lalu mengalami banjir parah di Jalan Pasteur akibat luapan air sungai dan sampah.

Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, mengatakan penyebab banjir yakni sampah yang menumpuk dan tata ruang kota yang kurang baik (Viva.co.id, 15 November 2016).

Masalah sampah juga menimbulkan ketegangan dua pemerintah daerah, yakni Jakarta dan Bekasi, dalam hal pengelolaan dan pembuangan sampah di TPSA Bantar Gebang. Warga Bekasi marah, karena selama ini mendapatkan polusi "bau" dari sampah warga Jakarta saban harinya. Memang, lokasi Bantar Gebang ini berada di Bekasi.

Perkembangan Energi Sampah di Indonesia

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X