Daya Beli Masyarakat Turun, Haruskah Berarti Tutup Usaha?

Kompas.com - 06/01/2017, 08:27 WIB
Suasana saat pembukaan Indonesia International Motor Show 2014 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (18/9/2014). Pameran otomotif terbesar di Indonesia ini akan berlangsung hingga 28 September 2014. KOMPAS / IWAN SETIYAWANSuasana saat pembukaan Indonesia International Motor Show 2014 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (18/9/2014). Pameran otomotif terbesar di Indonesia ini akan berlangsung hingga 28 September 2014.
|
EditorPalupi Annisa Auliani


KOMPAS.com
– Penurunan daya beli masyarakat jelas dapat berimbas pada merosotnya keuntungan usaha. Beberapa perusahan besar bahkan ada yang menutup aktivitas usaha mereka di Indonesia. Haruskah selalu begitu?

Merosotnya penjualan sebagai penyebab penutupan usaha, salah satunya diakui PT Ford Motor Indonesia (FMI). Perusahaan otomotif asal Amerika Serikat itu mengaku pasar Indonesia tak lagi mendatangkan untung.

“Setelah mempelajari secara seksama setiap opsi yang memungkinkan, jelas bagi kami bahwa tidak ada jalur menuju keuntungan yang berkesinambungan untuk kami di Indonesia," tulis keterangan FMI di situs web-nya yang dilansir Senin (25/1/2016).

Dari kondisi itu, FMI memutuskan menghentikan seluruh operasi di Indonesia sebelum akhir 2016. "(Untuk kemudian kami) mengkonsentrasikan sumber daya yang ada di tempat lain," lanjut keterangan tersebut.

Merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan Ford menurun sejak 2011. Angka penjualan pada 2015 bahkan anjlok 58,48 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada 2015, total penjualan Ford di Indonesia hanya 4.986 mobil. Padahal, angka penjualan mereka pada 2014 masih menembus angka 12.008 unit.

Meraba 2017

Penurunan penjualan sebenarnya tak hanya dialami Ford. Angka penjualan produk eceran di Indonesia memperlihatkan tren penurunan, setidaknya merujuk data Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilansir Bank Indonesia (BI).

Hasil survei yang dirilis pada Desember 2016, misalnya, mendapati Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Oktober 2016 merosot dibandingkan September 2016, yaitu menjadi 7,6 persen dari sebulan sebelumnya 10,7 persen. Indeks tersebut mengukur pertumbuhan penjualan eceran di masyarakat.

Lalu, bagaimana dengan 2017?

Kondisi di atas diduga masih akan terus berlangsung. Ekonomi global yang masih bergerak lambat ditambah beragam dinamika internasional yang berimbas ke perekonomian, menjadi landasan proyeksi.

Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X