Manuel Pakpahan
Anggota Asosiasi FinTech Indonesia dan Co-Founder OlahDana

Anggota Asosiasi FinTech Indonesia dan Co-Founder OlahDana

Potensi Fintech untuk Perluas Penetrasi Pasar Modal (Bagian 2)

Kompas.com - 10/01/2017, 13:33 WIB
. Fintech Talk.
EditorBambang Priyo Jatmiko

KOMPAS.com - Jika perusahaan perintis teknologi keuangan (fintech start-up) - bersinergi dengan bank investasi dan perusahaan sekuritas - dipercaya dapat mendongkrak jumlah investor di Indonesia.

Baca: Potensi Fintech untuk Perluas Penetrasi Pasar Modal (Bagian 1)

Namun demikian, belum banyak fintech start-up yang memfokuskan diri pada pengembangan industri pasar modal, mengingat basis investor domestik yang masih kecil walau peluang bonus demografi dan kelas pekerja diatas 100 juta nampak menggiurkan.

Sebenarnya, pasar modal merupakan institusi jasa keuangan yang siap bersinergi dengan fintech, karena pelaku usahanya telah terbiasa dengan dinamika perkembangan digital di sektor keuangan.

Oleh sebab itu, kolaborasi fintech dengan industri pasar modal seharusnya diarahkan lebih jauh pada akuisisi dan aktivitas nasabah (engagement), selain upaya yang sudah berjalan dalam mengintegrasikan sistem back-office, atau dalam hal terobosan terkait kemudahan transaksi menabung di reksa dana, menabung saham dan menabung obligasi.

 Sociotrading sebagai Terobosan Inovatif

 Sangat menggembirakan bahwadewasa ini lahir inovasi baru dari ranah fintech pasar modal, salah satunya adalah sociotrading; yaitu jejaring masyarakat investor berbasis digital (lewat forum pada website atau aplikasi mobile). Di Indonesia, platform ini diinisiasi oleh OlahDana yang memfasilitasi layanan mentor keuangan lewat fitur follow & copy-trade secara digital.

Kini lebih banyak manajer investasi juga dapat menyasar segmen ritel yang lebih luas lewat kanal digital seperti yang ditawarkan oleh Bareksa sebagai agen penjualnya. Sebaliknya, konsumen pun diuntungkan karena dapat mengakses begitu banyak pilihan reksa dana yang ditawarkan lewat layanan tersebut.

Perkembangan masa depan dalam dunia fintech pasar modal adalah robotrading, dimana nantinya investor diberi fasilitas untuk mengikuti analisis kuantitatif berbasis statistik dan matematis yang digunakan dalam membuat bauran tabungan saham, reksa dana atau obligasi.

Tren ini tengah berkembang di Jepang dan Korea Selatan namun bagi pasar di Indonesia, fitur ini diperkirakan baru akan berkembang dan dimanfaatkan dalam 5 tahun mendatang mengingat gaya komunikasi masyarakat lokal yang lebih disukai melalui pendekatan personal ketimbang robot.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.