Konsumsi Listrik Negara Maju 4.000 Watt Per Kapita, RI Baru 900 Watt

Kompas.com - 16/01/2017, 11:19 WIB
Pengurus menunjukkan ruang meteran listrik bagi salah satu warga yang menerima kunci unit rumah susun sewa Pulogebang, Jakarta Timur, Selasa (23/2/2016). KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESPengurus menunjukkan ruang meteran listrik bagi salah satu warga yang menerima kunci unit rumah susun sewa Pulogebang, Jakarta Timur, Selasa (23/2/2016).
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, negara maju adalah negara yang penduduknya minimal per orang mengkonsumsi listrik sebesar 4.000 watt per kapita.

Jika melihat data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, rasio elektrifikasi atau kapasitas listrik terpasang di Indonesia sebesar 91,1 persen, dengan konsumsi listrik 900 watt per kapita.

Artinya, angka 900 watt per kapita adalah angka yang terbilang rendah jika ingin Indonesia dikatakan sebagai negara maju dilihat dari segi konsumsi listrik per kapita.

"Sebuah negara dikatakan negara maju itu minimal konsumsi listriknya 4.000 per kapita. Sementara kita 900 per kapita. Kalau dengan anak istri dan anak buah baru 4.000 per kapita," ujar Arcandra di Jakarta, Senin (16/1/2017).

Untuk meningkatkan tingkat konsumsi masyarakat terhadap listrik, maka rasio elektrifikasi harus ditingkatkan, terutama akses listrik masyarakat di daerah-daerah terpencil.

Hal ini mengingat peningkatan rasio elektrifikasi sejalan dengan target pemerintah yang ingin meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 97 persen di 2019 yang dipercaya dapat membuat konsumsi listrik per kapita meningkat.

Artinya, ketika rasio elektrifikasi suatu negara mengalami peningkatan, maka konsumsi listrik pun akan mengalami peningkatan. "Kita perlu usaha empat kali lipat agar kita bisa menuju negara maju," tambah Arcandra.

Selain itu, peningkatan rasio elektrifikasi juga harus didasari program Nawacita dan Trisakti yang selama ini digadang-gadang pemerintah.

Trisakti mengatakan bangsa Indonesia harus berdaulat, berdikari dalam ekonomi dan berpribadian dalam kebudayaan. Berdikari di sini dalam arti ekonomi bangsa harus dibangun dari pinggirian.

"Salah satu implementasi kita membangun dari pinggiran adalah dengan mempercepat elektrifikasi. Rasio elektrifikasi kita 91,1 persen, pada akhir tahun 2019 97 persen. Tahun 2025 diharapkan 100 persen seluruh desa bisa teraliri listrik," pungkasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X