Pengalihan Pelabuhan Hub Internasional ke Tanjung Priok Dinilai Kurang Tepat

Kompas.com - 23/01/2017, 17:47 WIB
|
EditorM Fajar Marta

MEDAN, KOMPAS.com - Kebijakan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang mengalihkan pelabuhan hub internasional peti kemas wilayah barat Indonesia dari Pelabuhan Kuala Tanjung Sumatera Utara ke Pelabuhan Tanjung Priok menimbulkan pro dan kontra.

"Kebijakan itu tidak sesuai konsep tol laut dan Nawacita Presiden Jokowi. Alasan naiknya biaya karena penggunaan transportasi darat adalah tidak tepat," kata Ketua Umum Dewan Pengguna Jasa Pelabuhan Indonesia (Depalindo) Sumut Drs Hendrik H Sitompul, Senin (23/1/2017).

Menurutnya, transportasi ke dan dari Pelabuhan Kuala Tanjung menggunakan kapal laut akan mendorong terjadinya Short Sea Shipping.

Konsep tol laut adalah berintegrasinya sistem logistik laut dan darat dengan menggabungkan rute berlayar kapal dengan jaringan rel kereta api.

Dijelaskan Hendrik, peralihan status pelabuhan pengumpul atau hub internasional diputuskan melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 901/2016 tentang Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN) 2016.

Beleid itu menyebutkan, Pelabuhan Kuala Tanjung yang semula ditetapkan sebagai pelabuhan hub internasional sekarang hanya sebagai pelabuhan internasional saja.

Kemenhub menilai penetapan Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai pelabuhan hub internasional peti kemas tidak tepat karena menyebabkan biaya transportasi atau logistik meningkat 1,31 persen.

Biaya logistik meningkat karena arus lalu lintas truk ke Pelabuhan Kuala Tanjung dari Jawa dan Sumatera atau sebaliknya akan meningkat.

"Kebijakan ini juga akan menjadi blunder karena bertentangan dengan Perpres Nomor 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional (Silognas)," kata pria yang juga anggota DPRD Medan dari Fraksi Partai Demokrat itu.

Di dalam Silognas dijelaskan, percepatan pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan Kuala Tanjung merupakan salah satu upaya dalam membangun daya saing nasional khususnya perekonomian di Sumatera Utara.

Dia mengatakan, Pelabuhan Tanjung Priok justru sulit menjadi hub internasional. "Tanjung Priok itu berada di luar jalur utama pelayaran dunia. Deviasi ke Tanjung Priok dari jalur utama memakan waktu 30 jam," pungkas Hendrik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.