Indef: Pemerintah Perlu Waspadai Efek Negatif Kebijakan Trump

Kompas.com - 31/01/2017, 18:50 WIB
Direktur INDEF Enny Sri Hartati, dalam sebuah diskusi Evaluasi Efektivitas Paket kebijakan Ekonomi I-XII di Jakarta (30/5). Ahmad FauziDirektur INDEF Enny Sri Hartati, dalam sebuah diskusi Evaluasi Efektivitas Paket kebijakan Ekonomi I-XII di Jakarta (30/5).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Indonesia Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati meminta pemerintah untuk mewaspadai kebijakan-kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih yakni Donald Trump yang banyak menuai protes dari berbagai negara.

Pasalnya, kebijakan-kebijakan Trump yang cukup menuai protes tersebut akan sangat berpengaruh terhadap nilai tukar mata uang dalam hal ini rupiah, bahkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan mengalami koreksi.

"Para pelaku pasar modal pasti mulai risau, ini yang kita khawatirkan," kata Enny di Jakarta, Selasa (31/1/2017).

Enny juga meminta pemerintah untuk mewaspadai kebijakan suku bunga The Fed. Karena bagaimana pun juga, meski perdagangan bilateral Indonesia dengan Amerika Serikat tidak begitu besar, namun karena mata uang regional yang digunakan adalah dollar AS, maka secara otomatis akan berdampak bagi perekonomian Indonesia.

"Suku bunga naik dampaknya mempengaruhi pelemahan nilai tukar mata uang dunia terhadap Amerika. Ini yang dikhawatirkan, termasuk Indonesia," tutur Enny.

Sekadar informasi, sikap Pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah komando Presiden barunya Donald Trump terhadap Forum G20, belum bisa dipastikan. Karena selama ini negara-negara G20 memiliki prinsip keterbukaan ekonomi. Sementara Trump, mengusung kebijakan AS yang proteksionisme.

Masih banyak lagi kebijakan Trump yang sedang ditunggu oleh para pengambil kebijakan di level negara, pengusaha, maupun para manajer investasi. Kebijakan yang akan diambil Trump ini sangat penting bagi masa depan ekonomi dunia, termasuk ekonomi Indonesia.

Sebab itu, efek kebijakan Trump yang cenderung proteksionis ini menjadi faktor yang dapat menimbulkan ketidakpastian ekonomi global termasuk Indonesia.

Kompas TV Trump Pastikan Tak Lanjut Negosiasi TPP
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.