Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Muhammad Fajar Marta

Wartawan, Editor, Kolumnis 

Dua Rekor Paradoks Perbankan Nasional

Kompas.com - 06/02/2017, 05:58 WIB
Kompas TV Tahun Depan, Bunga Kredit Masih Bisa Turun?
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorBambang Priyo Jatmiko

Namun, apa yang terjadi? Ternyata, laba bank pada 2016 tetap tumbuh signifikan. Laba bersih industri perbankan pada 2016 mencapai sekitar Rp 113 triliun, tumbuh 8,43 persen dibandingkan tahun 2015 yang senilai Rp 104,63 triliun.

Inilah rekor baru perolehan laba bank. Tidak pernah pada tahun-tahun sebelumnya, perbankan meraih laba setinggi ini.

Jadi, pada 2016, perbankan mencatat dua rekor yang paradoks yakni penyaluran kredit terendah dan laba tertinggi.

Pertanyaannya, mengapa bank tetap bisa meraih laba signifikan di tengah buruknya penyaluran kredit?

Ternyata bank memperbesar margin keuntungannya melalui strategi suku bunga. Caranya, di tengah penurunan tren suku bunga pada 2016, perbankan menurunkan bunga simpanan secepat mungkin dan menurunkan bunga kredit selambat mungkin.

Sepanjang 2016, rata-rata suku bunga simpanan turun 124 basis poin (bp) dari 7,6 persen pada akhir 2015 menjadi 6,36 persen pada akhir 2016.

Namun, selama periode yang sama, rata-rata suku bunga kredit hanya turun 94 bp dari 12,46 persen menjadi 11,52 persen.

Artinya spread suku bunga simpanan dan suku bunga kredit makin melebar. Dengan strategi ini, bank tidak hanya bisa mempertahankan margin bunga bersih (net interest margin/NIM), tetapi bahkan meningkatkannya.

Pada akhir 2016, NIM perbankan nasional mencapai 5,82 persen, meningkat dibandingkan akhir tahun 2015 yang sebesar 5,39 persen.

Praktik yang dilakukan perbankan tersebut sebenarnya merugikan masyarakat dan dunia usaha. Jika strategi ini terus dilakukan perbankan, maka masyarakat dan sektor riil tidak akan pernah menikmati suku bunga kredit yang rendah.

Akibatnya, gairah pelaku usaha meminjam modal untuk mengembangkan usahanya akan tertahan. Ujungnya, akan merugikan perekonomian nasional  secara keseluruhan.

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com