Arab Saudi Susul Produsen Minyak Lain Bidik Investasi ke Indonesia, Terlambatkah?

Kompas.com - 27/02/2017, 07:00 WIB
Presiden Joko Widodo mendapatkan medali King Abdul Azis dari Raja Arab Saudi (kanan) Salman bin Abdulazis di Istana Al Salam Diwan Malaki, Jeddah, Sabtu (12/9/2015). Medali tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan Raja Arab terhadap Presiden Jokowi. Selama bertemu, kedua negara membicarakan sejumlah isu strategis termasuk pengampunan bagi warga Indonesia yang terancam hukuman mati. KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYATPresiden Joko Widodo mendapatkan medali King Abdul Azis dari Raja Arab Saudi (kanan) Salman bin Abdulazis di Istana Al Salam Diwan Malaki, Jeddah, Sabtu (12/9/2015). Medali tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan Raja Arab terhadap Presiden Jokowi. Selama bertemu, kedua negara membicarakan sejumlah isu strategis termasuk pengampunan bagi warga Indonesia yang terancam hukuman mati.
|
EditorAprillia Ika

Realisasi investasi setara Rp 35,91 miliar itu digunakan untuk pengerjaan 13 proyek dan menempatkan Irak di urutan ke-44. Lebih tinggi lagi dari Irak, ada Kuwait dengan realisasi investasi mencapai 3,6 juta dollar AS atau sekitar Rp 47,88 miliar.

Dana sebesar itu digunakan untuk mengerjakan sembilan proyek dan menempatkan Kuwait di peringkat ke-42 dari 121 negara investor asing.

Bahkan realisasi investasi Iran sepanjang tahun lalu mencapai 14,3 juta dollar AS atau sekitar Rp 190,1 miliar untuk pengerjaan 16 proyek. Iran pun menduduki peringkat 33 sebagai negara investor asing terbesar pada 2016.

Di luar kartel, Rusia yang juga produsen minyak besar global telah merealisasikan investasinya di Indonesia hingga 5,5 juta dollar AS atau setara Rp 73,15 miliar untuk mengerjakan 32 proyek. Rusia menempati posisi ke-38 sebagai negara investor terbesar di Indonesia pada 2016.

Teka-teki kedatangan Raja Salman

Sejumlah media asing melansir, kedatangan Raja Salman ke Indonesia tak lain adalah untuk diversifikasi sumber pendapatan negara. Harga minyak yang tak setinggi saat booming komoditas memaksa Arab Saudi memutar otak agar negaranya tetap sejahtera.

Wajar saja, 85 persen pendapatan negara berasal dari minyak. Akibat kelebihan pasokan global, harga minyak tertekan dan berimbas pada APBN Arab Saudi.

Gulf News pada Minggu (26/2/2017) menuliskan, defisit anggaran Arab Saudi pada 2015 mencapai 366 miliar riyal atau sekitar Rp 1.281 triliun (kurs 3.500). Beruntung, defisit anggaran bisa ditekan menjadi 297 miliar riyal atau sekitar Rp 1.039,5 triliun pada 2016.

Namun, kondisi itu masih terlalu buruk. Bahkan Arab Saudi terpaksa harus berutang untuk kali pertama sebesar 17,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 232,75 triliun guna menambal defisit APBN.

Negara-negara produsen OPEC telah sepakat untuk melakukan pemotongan produksi minyak di enam bulan pertama tahun 2017 sebesar 1,8 juta barrel, untuk menyeimbangkan pasokan global yang menekan harga selama lebih dari dua tahun.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X