ADB: Kebutuhan Investasi Infrastruktur Asia-Pasifik Sangat Besar

Kompas.com - 28/02/2017, 12:40 WIB
Presiden Joko Widodo meninjau pembangunan bendung Raknamo, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (25/7/2015). Dokumentasi Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPRPresiden Joko Widodo meninjau pembangunan bendung Raknamo, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (25/7/2015).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Asian Development Bank (ADB) merilis laporan terbarunya terkait kebutuhan investasi infrastruktur di Asia dan Pasifik. Dalam laporannya, kebutuhan investasi infrastruktur di Asia dan Pasifik sampai dengan 2030 akan melebihi 22,6 triliun dollar Amerika Serikat (AS) atau 1,5 triliun dollar AS per tahun.

Angka ini diperkirakan akan lebih tinggi hingga mencapai lebih dari 26 triliun dollar AS, atau 1,7 triliun dollar AS per tahun, apabila biaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim juga diperhitungkan.

Dalam laporan bertajuk Meeting Asia’s Infrastructure Needs yang berfokus pada infrastruktur listrik, transportasi, telekomunikasi, serta air dan sanitasi di kawasan Asia dan Pasifik.

Laporan tersebut mengkaji infrastruktur dan investasi saat ini secara menyeluruh, beserta kebutuhan investasi di masa yang akan datang, serta mekanisme pembiayaannya.

"Kebutuhan akan infrastruktur di wilayah Asia dan Pasifik jauh lebih besar dari pada pasokan yang tersedia saat ini," kata Presiden ADB, Takehiko Nakao dalam keterangannya, Selasa (28/2/2017).

Pembangunan infrastruktur di 45 negara yang tercakup dalam laporan ini tercatat naik pesat selama beberapa dekade terakhir, dan telah mendorong pertumbuhan, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan taraf hidup.

Namun, masih terdapat kesenjangan infrastruktur yang besar. Lebih dari 400 juta orang belum mendapatkan listrik, 300 juta belum dapat mengakses air minum aman, serta sekitar 1,5 miliar orang belum dapat mengakses sanitasi dasar.

Banyak perekonomian di kawasan ini yang kekurangan pelabuhan, jalur kereta, dan jalan yang memadai, yang berfungsi untuk menghubungkan perekonomian tersebut ke pasar domestik dan global secara efisien.

"ADB bertekad untuk terus bekerja sama dengan negara-negara anggotanya dan memanfaatkan 50 tahun pengalaman dan keahlian kami untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur kawasan ini. Karena sektor swasta penting untuk mengisi kesenjangan infrastruktur," jelas Nakao.

Dari kebutuhan total yang sudah disesuaikan untuk iklim selama 2016 hingga 2030, diperlukan 14,7 triliun dollar AS untuk investasi di sektor listrik dan 8,4 triliun dollar AS untuk sektor transportasi.

Investasi untuk sektor telekomunikasi akan mencapai 2,3 triliun dollar AS, sementara sektor air dan sanitasi akan memerlukan 800 miliar dollar AS selama periode tersebut.

Dimasukkannya investasi yang berkaitan dengan iklim adalah faktor utama penyumbang kenaikan tersebut. Faktor yang lebih penting lagi adalah pertumbuhan pesat yang diperkirakan akan terus berlanjut di kawasan ini, sehingga mendorong kebutuhan infrastruktur baru.

Dimasukkannya seluruh 45 negara anggota ADB di kawasan Asia yang sedang berkembang (dibandingkan dengan 39 negara pada laporan 2009), serta penggunaan harga 2015 (versus harga 2008) juga menjelaskan peningkatan tersebut.

Saat ini, kawasan ini menginvestasikan sekitar 881 miliar dollar AS per tahun pada infrastruktur (dihitung berdasarkan 25 perekonomian dengan data memadai, yang mencakup 96 persen dari penduduk kawasan ini).

Kompas TV Di sela-sela kunjungannya meninjau kesiapan infrastruktur Asian Games, Basuki Tjahaja Purnama yakin angka kemacetan di Jakarta akan berkurang setelah MRT dan LRT mulai berjalan. Menurut rencana, moda transportasi MRT Jakarta koridor satu tahap pertama Lebak Bulus - Bundaran HI diprediksi akan beroperasi pada 2019. Nantinya di sekitar lokasi LRT dan MRT disediakan lokasi hunian yang dapat menghemat waktu ke lokasi kerja.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X