Kemenperin Usulkan Industri Kaca dan Keramik Mendapat Harga Gas Murah

Kompas.com - 07/03/2017, 20:15 WIB
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto membahas gas industri di Kantor Redaksi Kompas, Senin (24/10/2016). Iwan Supriyatna/KOMPAS.comMenteri Perindustrian, Airlangga Hartarto membahas gas industri di Kantor Redaksi Kompas, Senin (24/10/2016).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah mengusulkan potongan harga gas industri untuk dua sektor industri tambahan yaitu kaca dan keramik.

Sebelumnya hanya tiga sektor yang mendapatkan harga gas murah yakni industri pupuk, baja, dan petrokimia.

Di industri kaca dan keramik, total ada 86 perusahaan diusulkan Kemenperin agar mendapatkan harga gas industri yang terjangkau. Usul Kemenperin tersebut disampaikan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Direktur Industri Kimia Dasar, Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Muhammad Khayam mengatakan pemilihan lima sektor tersebut karena memiliki efek ganda ekonomi dan dan menggunakan gas sebagai bahan baku utama.

"Karena mendesak. Sementara 86 perusahaan itu dulu," ujarnya di Jakarta, Selasa (7/3/2017).

Menurut Khayam, sektor industri petrokimia, pupuk, dan baja telah diusulkan sebelumnya, dan penurunan harga gas industri bagi ketiga sektor telah tercantum di dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 40 Tahun 2016.

"Kemarin, dengan Permen ESDM Nomor 40 Tahun 2016, baru tiga sektor saja. Ini kan harus ditambah dua lagi karena mendesak, yaitu kaca dan keramik. Jadi itu dulu," tambah Khayam.

Lebih lanjut, Khayam menegaskan, ada dua industri lain yang tengah disiapkan Kemenperin untuk mendapatkan potongan harga gas yaitu industri sarung tangan dan oleochemical.

Sebagai informasi, pada Januari lalu, pemerintah sudah menurunkan harga gas untuk industri pupuk, baja dan petrokimia.

Dari tiga industri itu terdapat delapan perusahaan yakni  PT Kaltim Parna Industri, PT Kaltim Methanol Industri, PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Pupuk Kujang Cikampek, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Petrokimia Gresik dan PT Krakatau Steel.

Kompas TV 20 tahun berdiri, industri sepatu kulit rumahan di Puspowarno, Semarang, masih menunjukkan eksistensinya. Sepatu kulit, bagi sebagian orang, mungkin dianggap barang yang mahal. Tapi tidak demikian halnya, jika Kamu membeli sepatu kulit hasil industri rumahan, yang berada di Jalan Puspowarno Selatan 2 Semarang. Sebagian besar bahan baku kulit ini, berasal dari kulit sapi, baik lokal maupun impor. Bahan baku kulit lokal, lebih mudah didapat dibanding impor, yang harganya jauh lebih mahal. Meski begitu, agar tetap dapat menggunakan bahan baku kulit impor, pembuatan sepatu menyiasatinya dengan kulit impor sisa produksi pabrik tas dan sepatu kulit berskala besar.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.