Reksa Dana Saham Masih Berpeluang Menguat

Kompas.com - 16/03/2017, 20:11 WIB
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (22/11/2016).
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGPergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (22/11/2016).
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Imbal hasil reksa dana saham minus sepanjang Februari 2017. Meski demikian, kinerja reksa dana saham diperkirakan masih akan terus menguat hingga akhir tahun ini.

Sebaliknya, kinerja reksa dana campuran berpotensi melemah. Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo mengatakan, hingga akhir Februari 2017, rata-rata imbal hasil reksa dana saham tercatat sebesar 11,43 persen secara tahunan atau year on year (YoY).

Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap memberikan imbal hasil sebesar 9,34 persen YoY dan reksa dana campuran 11,44 persen YoY.

Meski begitu, dia optimistis reksa dana saham akan membukukan kinerja paling tinggi di antara jenis reksa dana lainnya pada tahun ini.

Bahana TCW Investment Management memperkirakan pada tahun ini Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) akan bertumbuh sekitar 17,6 persen.

Pendapatan emiten diperkirakan lebih baik dari tahun lalu. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pun diharapkan lebih tinggi pada tahun ini. Sepanjang tahun 2016, Produk Domestik Bruto Indonesia mencapai 5,02 persen.

Tetapi, Soni juga mengingatkan ada beberapa faktor risiko yang secara umum dapat memengaruhi kinerja di pasar finansial.

“Faktor dari luar negeri, seperti masih ada ketidakpastian mengenai arah kebijakan Presiden Donald Trump, juga rencana kenaikan tingkat suku bunga di Amerika Serikat dan berbagai pemilihan umum di Eropa,” kata Soni melalui keterangan tertulis kepada Kompas.com, Kamis (16/3/2017).

Menurut dia, walaupun Presiden Trump sudah berbicara pada beberapa saat lalu dan sempat membuat Indeks Dow Jones menguat mencapai rekor baru, masih banyak hal yang belum terungkap jelas mengenai arah kebijakan Trump.

Soni melihat, kebijakan populis akan membuat investor lebih tertarik berinvestasi di pasar saham di negara maju.

Semalam, Federal Open Market Committee (FOMC) mengadakan pertemuan dan seperti yang sudah diperkiraan oleh para pelaku pasar, bank sentral AS Federal Reserve menaikkan tingkat suku bunganya sebesar 25 basis poin menjadi 0,75-1 persen.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X