Sudah Saatnya Rakyat Jadi Investor di Sektor Pertanian

Kompas.com - 22/03/2017, 07:31 WIB
Senator/Anggota DPD RI Asal Provinsi NTT Ibrahim Agustinus Medah (kanan) ketika mendengarkan aspirasi para veteran yang disampaikan oleh Koordinator Tim 10 Veteran/Calon Veteran NTT Ir. Stefanus D. Nahak di Kantor DPD RI Perwakilan NTT di Kupang, Selasa (22/11/2016) Laurens Leba Tukan for Kompas.comSenator/Anggota DPD RI Asal Provinsi NTT Ibrahim Agustinus Medah (kanan) ketika mendengarkan aspirasi para veteran yang disampaikan oleh Koordinator Tim 10 Veteran/Calon Veteran NTT Ir. Stefanus D. Nahak di Kantor DPD RI Perwakilan NTT di Kupang, Selasa (22/11/2016)
|
EditorAprillia Ika

KUPANG, KOMPAS.com - Anggota DPD Ibrahim Agustinus Medah menyebutkan bahwa saat ini rakyat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) harus menjadi investor di bidang pertanian. Menurut Medah, rakyat harus mengangkat potensi pertanian menjadi kekuatan ekonomi, sehingga keuntungan besarnya ada pada rakyat.

Rakyat, kata Medah, tetap menjadi pemilik lahan dan semua potensi pertanian yang ada. Rakyat tinggal bekerja saja dan dibantu oleh pemerintah daerah dengan memberikan bantuan air, tanah dan tenaga pendamping.

Sedangkan untuk investor dari luar, lanjut Medah, hanya memberi nilai tambah bagi produk pertanian para petani NTT, yakni membangun industrinya atau memfasilitasi perdagangannya.

“Kita butuh investor hanya untuk memberikan nilai tambah bagi produk pertanian kita. Produksi pertanian dilakukan oleh petani kita sendiri. Jadi petanilah yang menjadi investornya,” kata Medah kepada Kompas.com, Selasa (21/3/2017) malam.

Medah menambahkan, jika produk pertanian masuk ke industri atau tidak, itu sudah menjadi urusan investor, bukan lagi petani. Tetapi, kalau investor tidak mau, maka pemerintah daerah yang memfasilitasi. Oleh karena itu, petani tak perlu ragu dengan pasar.

“Ketika petani menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dan dalam jumlah yang banyak, maka pasar akan melirik. Yang penting keberlanjutan produksi tetap dijaga. Kalau sekarang NTT dikasih makan oleh provinsi lain, maka saatnya NTT-lah yang kasih makan provinsi lain, melalui potensi pertanian kita,” ucapnya.

Medah mengklaim, NTT berbeda dengan provinsi lainnya. Potensi yang dimiliki provinsi lain sudah ada di permukaan, tinggal dikelola saja untuk meningkatkan perekonomian mereka. Jawa Timur misalnya, peternakannya sudah leading.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jawa Timur mengembangkan peternakan bukan lagi dengan breeding normal, tapi sudah melakukan inseminasi buatan. Sedangkan di NTT, potensinya masih tenggelam, seperti pertanian, khususnya holtikultura yang luar biasa belum diangkat ke permukaan.

“Saya harus katakana bahwa sudah saatnya untuk rakyat bergerak didukung oleh pemerintah daerah melalui APBD 1 dan 2,”tutup mantan Bupati Kupang dua periode itu.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Belanja Hemat Akhir Pekan, Manfaatkan Promo Indomaret Selama 3 Hari

Belanja Hemat Akhir Pekan, Manfaatkan Promo Indomaret Selama 3 Hari

Whats New
ICAEW Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen pada 2021

ICAEW Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 4,7 Persen pada 2021

Whats New
Kasus Covid-19 Melonjak, PNS Dilarang Cuti Saat Libur Nasional

Kasus Covid-19 Melonjak, PNS Dilarang Cuti Saat Libur Nasional

Whats New
Sedang Cari Lowongan Pekerjaan? Segera Kunjungi Digital Career Expo 2021

Sedang Cari Lowongan Pekerjaan? Segera Kunjungi Digital Career Expo 2021

Rilis
Libur Nasional dan Cuti Bersama 2021 Direvisi Lagi, Apa Saja Yang Diganti ?

Libur Nasional dan Cuti Bersama 2021 Direvisi Lagi, Apa Saja Yang Diganti ?

Whats New
Pertamina Group Buka Lowongan Kerja, Cek Posisi dan Syaratnya

Pertamina Group Buka Lowongan Kerja, Cek Posisi dan Syaratnya

Work Smart
Kemnaker Gagalkan Pengiriman 11 Pekerja Migran Ilegal

Kemnaker Gagalkan Pengiriman 11 Pekerja Migran Ilegal

Rilis
Menaker Sebut Upah Buruh Turun 5,2 Persen Selama Pandemi Covid-19

Menaker Sebut Upah Buruh Turun 5,2 Persen Selama Pandemi Covid-19

Whats New
Bangun PLTA di Sumbar, PLN Dapat Dana Hiba Rp 20,55 dari Perancis

Bangun PLTA di Sumbar, PLN Dapat Dana Hiba Rp 20,55 dari Perancis

Whats New
Lelang Aset Asabri dan Jiwasraya, DJKN: Target Dapat Hasil Setinggi-tingginya

Lelang Aset Asabri dan Jiwasraya, DJKN: Target Dapat Hasil Setinggi-tingginya

Whats New
Kemenhub Mediasi Penyelesaian Santunan Pelaut RI yang Meninggal di Singapura

Kemenhub Mediasi Penyelesaian Santunan Pelaut RI yang Meninggal di Singapura

Whats New
Kapan Moge dan Brompton Selundupan Mantan Dirut Garuda Dilelang? Ini Kata DJKN

Kapan Moge dan Brompton Selundupan Mantan Dirut Garuda Dilelang? Ini Kata DJKN

Whats New
[TREN TEKNOLOGI KOMPASIANA] Perawatan Spooring dan Balancing | Masyarakat Jepang Ogah Gunakan Kendaraan Pribadi

[TREN TEKNOLOGI KOMPASIANA] Perawatan Spooring dan Balancing | Masyarakat Jepang Ogah Gunakan Kendaraan Pribadi

Rilis
IHSG Anjlok 1 Persen di Akhir Pekan, Rupiah Ikut Melemah

IHSG Anjlok 1 Persen di Akhir Pekan, Rupiah Ikut Melemah

Whats New
Saham Unilever Indonesia Anjlok 30,95 Persen sejak Awal Tahun, Ini Pemicunya

Saham Unilever Indonesia Anjlok 30,95 Persen sejak Awal Tahun, Ini Pemicunya

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X